Merancang
Karya Teater Kreatif dari Teater Tradisional (Kls XI)
Untuk jenis-jenis teater tradisional nusantara, silahkan baca disini -> 15 Teater Tradisional Nusantara
Karena
teater ini dapat dikatakan sebuah kreativitas yang memadukan semua jenis
teater, yaitu teater tradisional dan teater modern, baik dari daerah setempat,
Nusantara, ataupun mancanegara.
Perpaduan hal tersebut akan memunculkan sebuah keunikan tersendiri dan akan
menjadi ciri khas teater yang akan dipentaskan. Memang hal ini tidak akan
terlalu mudah bagi pemain teater pemula. Akan tetapi, dengan semangat dan rasa
keingintahuan serta eksplorasi setiap bakat yang ada dalam diri akan
memunculkan sebuah prestasi yang maksimal.
1.
Unsur-Unsur Pertunjukan Teater
Dalam
mementaskan sebuah pertunjukan teater (drama) setidaknya terdapat beberapa
unsur yang perlu kamu pahami, yaitu naskah drama, sutradara, pemeran, panggung,
perlengkapan panggung (cahaya, rias, bunyi, pakaian), dan penonton.
a.
Naskah Drama
Naskah
drama merupakan bahan pokok pementasan. Secara garis besar naskah drama dapat
terbentuk tragedi (tentang kesedihan dan kemalangan), dan komedi (tentang
lelucon dan tingkah laku konyol). Penyajiannya secara realis (mendekati
kenyataan yang sebenarnya dalam pementasan, baik dalam bahasa, pakaian, dan
tata panggungnya, serta secara simbolik) dalam pementasannya tidak perlu mirip
apa yang sedang terjadi dalam realitas.
b. Sutradara
Sutradara
inilah yang bertugas mengoordinasikan lalu lintas pementasan agar pementasannya
berhasil. Tugas sutradara adalah membuat atau mencari naskah drama, mencari
pemeran, kerabat kerja, penyandang dana (produsen), dan dapat menyikapi calon
penonton.
c. Pemeran
Pemeran
inilah yang harus menafsirkan perwatakan tokoh yang diperankannya. Memang
sutradaralah yang menentukannya. Namun, tanpa kepiawaian dalam memerankan
tokoh, konsep peran yang telah digariskan sutradara berdasarkan naskah, hasilnya
akan sia-sia belaka.
d. Panggung
Secara
garis besar, variasi panggung dapat dibedakan menjadi dua kategori. Pertama,
panggung yang dipergunakan sebagai pertunjukan sepenuhnya, sehingga semua
penonton dapat mengamati pementasan secara keseluruhan dari luar panggung.
Kedua, panggung berbentuk arena yaitu panggung yang memungkinkan pemain berada
di sekitar penonton.
e. Perlengkapan Panggung
Perlengkapan
panggung meliputi beberapa unsur diantaranya adalah sebagai berikut:
Cahaya, Cahaya atau lighting diperlukan
untuk memperjelas penglihatan penonton terhadap mimik pemeran. Dengan demikian
penciptaan suasana sedih, murung atau gembira, dapat tercapai. Selain itu,
cahaya dapat mendukung keartistikan set yang dibangun di panggung.
Bunyi (Sound Effect), Bunyi dapat
diusahakan secara langsung (orkestra, band, gamelan, dan sebagainya), tetapi
juga dapat lewat perekaman yang jauh hari sudah disiapkan oleh awak pentas yang
bertanggungjawab mengurusnya.
Pakaian, Pakaian sering disebut kostum
(costume). Kostum adakah pakaian yang dikenakan para pemain untuk membantu
pemeran dalam menampilkan perwatakan tokoh yang diperankannya.
Rias, Semua itu diusahakan untuk membantu
para pemeran dalam membawakan perwatakan tokoh sesuai dengan yang diinginkan naskah
dan tafsiran sutradara. Inilah fungsi dari tata rias dalam pementasan teater.
f. Penonton
Tujuan
suatu pementasan lakon adalah penonton. Respons penonton atas lakon akan
menjadi suatu respons yang melingkar antara penonton dengan pementasan.
Penonton dalam pementasan teater merupakan suatu komposisi organisme
kemanusiaan yang peka. Mereka pergi menonton karena ingin memperoleh kepuasan,
kebutuhan, atau untuk digetarkan hatinya karena terharu akibat hasrat ingin
menonton.
Penafsiran
terhadap naskah meliputi hal-hal berikut:
a.Menentukan
tema sebuah naskah.
b.Menentukan
karakter-karakter tokoh, misalnya ada tokoh baik, jahat, pemberani, pengecut,
pemalu, centil, pendiam, penakut, dan sebagainya.
c.Menafsirkan
plot atau alur, yakni rangkaian cerita yang disusun berdasarkan sebab akibat.
Alur
dibuat semenarik mungkin sehingga penonton diharapkan ikut larut dalam
suasana pertunjukan.
d.Perhatikan
pula struktur dramatik naskah, berkaitan dengan pemaparan dan pengenalan,
konflik
yang dibangun, cara menyelesaikan konflik, serta pemecahan masalah yang
disodorkan.
e.Menentukan
setting atau latar cerita, meliputi tempat, waktu, suasana, serta kondisi sosial
masyarakat yang terdapat dalam cerita. Misalnya berlatar tempat di kantin
sekolah dengan suasana
ramai oleh siswa pada waktu istirahat siang hari dan
saat itu sedang gerimis. Penafsiran terhadap
setting akan mempermudah pemain
Pada saat latihan bisa dilakukan hal-hal berikut:
a. Pembacaan
dan penghafalan naskah, lakuan akting, blocking, gesture, dan gerakan pemain di
atas panggung.
b. Menciptakan
musik dan suara yang akan dimunculkan sesuai tema.
c. Menentukan
peralatan dan perlengkapan pemain.
d. Menentukan
dan menyediakan benda-benda yang harus ada di atas panggung sesuai tema.
e. Menyediakan
kostum dan menyiapkan riasan yang akan dipakai oleh pemain sesuai karakter
tokoh
yang diperankannya.
f. Mempersiapkan
panggung, rencana penataan cahaya dan warna, serta penataan panggung secara
keseluruhan.
g. Mengatur
irama permainan supaya pertunjukan menarik dan tidak monoton.
2.
Pertunjukan Teater
Dalam
penyelenggaraan pementasan teater terdapat tahapan utama yaitu tahap persiapan,
latihan, dan pelaksanaan.
a.
Tahap Persiapan Pertunjukan
Pada
umumnya, prinsip-prinsip sebuah pertunjukan mempunyai langkah-langkah sebagai
berikut.
Perencanaan Pertunjukan, Perencanaan
sebaiknya dilakukan secara lebih cermat dan detail. Rencana-rencana itu
sebaiknya ditulis.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan adalah penentuan tema, rencana kegiatan, penyusunan program kegiatan, dan penentuan tempat pertunjukan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan adalah penentuan tema, rencana kegiatan, penyusunan program kegiatan, dan penentuan tempat pertunjukan.
Pengelolaan Kegiatan Pertunjukan,
Mengorganisasi kegiatan pertunjukan adalah melakukan kegiatan pengelolaan
sumber daya manusia berdasarkan struktur organisasi. Di dalam struktur tersebut
terdapat pembagian tugas yang jelas sesuai dengan kedudukan dan fungsinya.
Tahap Pelaksanaan, Dalam tahap ini, kedua
tim yang telah dibentuk bekerja menurut tugas dan perannya masing-masing. Tim
penyelenggara bertugas untuk melaksanakan "acara" pementasan,
sedangkan tim pementasan bertugas menyajikan karya seni (drama) untuk ditonton.
b. Latihan Pertunjukan
Seorang
aktor tidak langsung begitu saja memainkan perannya. Kepiawaian seorang aktor
ketika bermain peran merupakan hasil maksimal dari beberapa latihan yang
dilakukannya. Ketika berlatih, seorang pemain harus selalu menjaga suasana
dengan gembira, semangat yang maksimal, kesungguhan dan kemauan untuk bekerja
sama dengan pemain atau kru lainnya.
c. Tahap Pelaksanaan Pertunjukan Teater
Setelah
semua tahap di atas selesai, pertunjukan teater pun dapat digelar. Hal yang
harus diingat, buatlah sebuah gladi bersih terlebih dahulu. Gladi bersih
merupakan persiapan terakhir untuk menuju sebuah pementasan. Tujuan dari tahap
ini adalah sebagai simulasi pada hari-H agar seluruh panitia yang terlibat siap
untuk menghadapi kendala-kendala yang mungkin akan terjadi saat melakukan
sebuah pementasan.
Contoh Naskah Drama Singkat Untuk Latihan -> Contoh Naskah Drama Tentang Moral Dan Persahabatan
blogpekick.blogspot.com
4/15/2019 11:14:00 am
New Google SEO
Bandung, IndonesiaContoh Naskah Drama Singkat Untuk Latihan -> Contoh Naskah Drama Tentang Moral Dan Persahabatan
Merancang Karya Teater Kreatif dari Teater Tradisional
Posted by Kamarnya Pekick on Monday, 15 April 2019
Rangkuman SBK Seni Tari (Kelas XI)
A.Nilai Keindahan Karya Tari
Seni dianggap indah karena seni merupakan ungkapan perasaan manusia yang dituangkan melalui media tertentu dan menghasilkan sesuatu yang bernilai tinggi.
Seni tari merupakan ungkapan perasaan manusia yang dituangkan melalui gerak tubuh sebagai medianya.
*Setiap bentuk karya tari memiliki keindahan masing-masing.
*Koreografi digunakan untuk menyebut pengetahuan tentang penyusunan atau penggarapan tari.
*Penyusun, penggarap, atau penata tari disebut koreografer.
*Bentuk tari tunggal merupakan karya tari yang umumnya hanya ditarikan oleh seorang penari.
*Setiap bentuk karya tari memiliki keindahan masing-masing.
*Koreografi digunakan untuk menyebut pengetahuan tentang penyusunan atau penggarapan tari.
*Penyusun, penggarap, atau penata tari disebut koreografer.
*Bentuk tari tunggal merupakan karya tari yang umumnya hanya ditarikan oleh seorang penari.
Namun, ada beberapa bentuk tari tunggal yang dapat ditarikan oleh lebih dari seorang penari. Di Indonesia, istilah koreografi baru dikenal sekitar tahun lima puluhan.
Berdasarkan makna katanya, koreografi berarti catatan tari.
Berdasarkan bentuk koreografinya, tarian di Indonesia diklasifikasikan menjadi tiga bentuk, yaitu tari tunggal, tari berpasangan, dan tari kelompok.
Tari tunggal yang harus diperagakan oleh seorang penari biasanya mengambil tema penokohan dalam suatu cerita.
Karya tari tunggal yang dapat ditarikan secara massal biasanya mengambil tema menirukan binatang, pekerjaan, permainan, atau hal-hal lain yang hanya menunjukkan jabatan.
Peranan karya tari tunggal bagi masyarakat, yaitu sebagai sarana upacara, sarana pergaulan, dan sarana tontonan atau pertunjukan.
Salah satu dorongan kodrati manusia, di samping mempertahankan kehidupannya, adalah untuk menikmati keindahan. Keindahan pada seni tari sangat kompleks karena banyaknya elemen yang ada dalam karya tari.
Cabang kesenian, pada dasarnya, dapat digolongkan menjadi dua, yaitu seni rupa dan seni pertunjukan.
Seni pertunjukan atau seni tontonan mencakup beberapa jenis seni, seperti seni drama, seni suara atau seni musik, dan seni tari.
Keindahan dan keunikan karya seni tari dapat dilihat berdasarkan elemen yang ada, seperti gerak, iringan, tempat, tata busana, dan tata rias. Karya seni tari akan lebih sempurna jika dilengkapi dengan tata sinar atau lighting dan tata suara atau sound system.
Secara umum, ukuran keindahan karya tari dapat diketahui, di antaranya, melalui hal berikut.
*Adanya kesesuaian antara segala elemen dalam karya tari dengan tema tari.
*Adanya kesesuaian antar elemen dalam karya tari.
*Adanya kesesuaian antara segala elemen dalam karya tari dengan tema tari.
*Adanya kesesuaian antar elemen dalam karya tari.
B.Menyusun Karya Seni Tari
Sinopsis dalam karya tari merupakan ringkasan atau abstraksi dari apa yang diungkapkan dalam sebuah karya tari. Sebuah sinopsis dapat menginformasikan terlebih dahulu mengenai isi sebuah karya tari sebelum kita menyaksikan pertunjukannya.
Sinopsis dapat berupa uraian kalimat yang menerangkan dengan jelas mengenai isi karya tari. Selain berupa uraian kalimat, sinopsis dapat berupa puisi yang menggambarkan dengan jelas isi karya tari. Sinopsis berupa puisi, banyak dipakai pada berbagai karya tari kreasi baru.
Tujuan pembuatan sinopsis pada sebuah karya tari, yaitu agar penonton mengetahui dengan lebih jelas mengenai karya tari yang akan ditonton.
Sinopsis karya tari dibuat dengan memerhatikan hal-hal berikut.
*Isi dari sinopsis harus jelas, sesuai dengan isi karya tari.
*Kalimatnya harus mudah dipahami oleh masyarakat.
*Sinopsis dibuat singkat, namun mencakup keseluruhan gambaran karya tari.
*Isi dari sinopsis harus jelas, sesuai dengan isi karya tari.
*Kalimatnya harus mudah dipahami oleh masyarakat.
*Sinopsis dibuat singkat, namun mencakup keseluruhan gambaran karya tari.
Sinopsis karya tari biasanya dibacakan oleh pembawa acara pada saat sebuah karya tari akan dipertunjukkan. Namun, sinopsis juga dapat dicantumkan pada buku katalog pertunjukan. Katalog tersebut umumnya disebarkan kepada masyarakat jauh hari sebelum waktu pertunjukan.
Pada umumnya, sinopsis dibuat oleh penata tari. Penata tari merupakan orang yang paling memahami mengenai karya tari yang diciptakannya.
Tema, sebagai dasar pembuatan gerak tari, harus dipilih secara cermat. Kita harus dapat menarikan tema yang telah kita pilih.
Langkah yang harus dilakukan untuk menyusun gerak tari, di antaranya, melakukan eksplorasi gerak.
Eksplorasi gerak bertujuan untuk mendapatkan gerak tari sesuai dengan yang diharapkan. Sebelum melakukan eksplorasi gerak, kita harus sudah menentukan tema tari, bentuk karya tari, dan jumlah penari.
Eksplorasi gerak untuk tari tunggal berbeda dengan eksplorasi gerak untuk tari berpasangan maupun kelompok. Gerak merupakan materi karya tari yang paling utama. Oleh karena itu, penari yang akan menampilkan karya tari harus benar-benar menguasai gerak tarinya.
Sebelum menampilkan karya tari di depan penonton, kita harus mempersiapkan beberapa hal berikut.
*Materi karya tari dengan gerak sebagai unsur utamanya.
*Unsur pendukung karya tari.
*Materi karya tari dengan gerak sebagai unsur utamanya.
*Unsur pendukung karya tari.
C.Keindahan Karya Tari Kelompok
Pada dasarnya, karya tari berfungsi sebagai sarana upacara, sarana hiburan, dan sarana pertunjukan atau tontonan. Tari kelompok merupakan bentuk karya tari yang diperagakan oleh lebih dari dua orang penari.
Dalam menari kan tari kelompok diperlukan kerja sama antar penari. Jenis tarian yang digunakan dalam peristiwa yang berkaitan dengan acara keagamaan berarti karya tari tersebut berfungsi sebagai sarana upacara keagamaan.
Jenis tarian yang berkaitan dengan peristiwa alam dan peristiwa kehidupan manusia berarti karya tari tersebut berfungsi sebagai sarana upacara adat.
Karya tari yang berfungsi sebagai sarana hiburan lebih menitikberatkan pada pemberian kepuasan perasaan tanpa mempunyai tujuan yang lebih dalam, misalnya, memperoleh pengetahuan atau pengalaman dari apa yang kita lihat.
Seni tari sebagai seni pertunjukan mengandung pengertian untuk mempertunjukkan sesuatu yang bernilai seni yang senantiasa berusaha untuk menarik perhatian.
Ciri-ciri karya tari yang berfungsi sebagai sarana pertunjukan sebagai berikut.
*Pola penggarapannya merupakan penyajian yang khusus untuk dipertunjukkan (perfoming art), dengan usaha untuk mengembangkan seluruh kaidah-kaidahnya.
*Adanya faktor imajinatif dan kreativitas.
*Adanya ide yang mengandung dan mengarah kepada bentuk pementasan yang profesional.
*Lokasi pementasan di tempat yang khusus, baik berupa gedung pertunjukan tradisional, modern, panggung terbuka atau panggung tertutup.
Tari Rangguk (jambi) merupakan contoh karya tari yang mengalami perkembangan. Tari Rangguk awalnya merupakan karya tari yang berfungsi sebagai sarana upacara adat, namun saat ini banyak beralih fungsi sebagai seni pertunjukan.
Keindahan karya tari kelompok dapat dilihat dari kesesuaian gerak dan unsur pendukungnya dengan tema karya tari. Keindahan karya tari kelompok juga dilihat berdasarkan komposisi gerak tari yang memenuhi hal-hal berikut.
*Kesatuan.
*Keseimbangan.
*Selang-seling.
*Silih berganti atau berurutan.
*Terpecah.
*Kesatuan.
*Keseimbangan.
*Selang-seling.
*Silih berganti atau berurutan.
*Terpecah.
Karya tari disebut unik jika karya tari tersebut mempunyai perbedaan daripada karya tari yang lain. Keunikan karya tari kelompok dapat dilihat dari gerak, busana, iringan, tata rias, tempat penyajian, variasi pola lantai, komposisi, dan sebagainya.
D.Mempertunjukkan Kreasi Tari Kelompok
Seni tari, sebagai seni pertunjukan, tidak semata-mata dipertunjukkan hanya untuk tontonan orang lain. Seni tari, sebagai seni pertunjukan, juga harus mempertimbangkan nilai-nilai estetis dan kebermanfaatannya bagi penonton.
Sinopsis karya tari merupakan ringkasan atau abstraksi dari apa yang diungkapkan dalam sebuah karya tari. Sinopsis disusun secara singkat, jelas, dan kalimatnya mudah dipahami oleh penonton. Sinopsis dapat disusun sebelum membuat suatu karya tari. Sinopsis yang disusun sebelum karya tari dibuat dapat mempermudah proses pembuatan karya tari. Sinopsis dapat disusun berdasarkan tema dan judul tarian yang telah ditentukan.
Setelah tema, judul, dan sinopsis karya tari dibuat, seorang penata tari dapat membuat gerak tarinya dan meneruskan pembuatan karya tari secara utuh. Namun, perlu diingat bahwa dalam membuat gerak tari perlu adanya eksplorasi gerak supaya gerak yang dihasilkan sesuai dengan tema tari. Persiapan pertunjukan karya tari, di antaranya, meliputi karya tari dan tempat pertunjukan.
Pertunjukan karya tari perlu dipersiapkan dengan tujuan sebagai berikut.
*Ada kesesuaian antar unsur.
*Supaya pertunjukan berhasil dengan baik.
*Memberikan kepuasan, baik bagi penyaji maupun penonton.
*Ada kesesuaian antar unsur.
*Supaya pertunjukan berhasil dengan baik.
*Memberikan kepuasan, baik bagi penyaji maupun penonton.
Pertunjukan karya tari perlu memerhatikan beberapa kesesuaian, di antaranya, sebagai berikut.
*Kesesuaian gerak tari dengan tema tari.
*Kesesuaian antara rangkaian gerak satu dengan gerak berikutnya.
*Kesesuaian gerak dengan musik yang mengiringi.
*Kesesuaian busana tari dengan tema dan gerak tari.
*Kesesuaian gerak tari dengan tempat pertunjukan.
*Kesesuaian gerak tari dengan bentuk pola lantai.
*Kesesuaian gerak tari dengan tema tari.
*Kesesuaian antara rangkaian gerak satu dengan gerak berikutnya.
*Kesesuaian gerak dengan musik yang mengiringi.
*Kesesuaian busana tari dengan tema dan gerak tari.
*Kesesuaian gerak tari dengan tempat pertunjukan.
*Kesesuaian gerak tari dengan bentuk pola lantai.
Hal-hal berikut harus dilakukan jika memperagakan karya tari orang lain.
*Mengetahui dan memahami tema karya tari.
*Memahami, menirukan, dan menghafalkan gerak tari satu per satu.
*Banyak bertanya kepada penata tari mengenai karya tari, baik tentang unsur utama maupun
*Mengetahui dan memahami tema karya tari.
*Memahami, menirukan, dan menghafalkan gerak tari satu per satu.
*Banyak bertanya kepada penata tari mengenai karya tari, baik tentang unsur utama maupun
unsur pendukung.
Mempertunjukkan hasil karya merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi seseorang yang gemar berkarya. Menunjukkan hasil karya berarti memberikan peluang kepada orang lain untuk mengapresiasi karya seni.
Sumber belajar: pustakamateri.web.id
blogpekick.blogspot.com
4/24/2018 07:47:00 pm
New Google SEO
Bandung, IndonesiaSumber belajar: pustakamateri.web.id
Penyajian Kritik Musik
Setelah mengetahui beberapa konsep kritik seni musik. Ada 4 hal pokok dalam kegiatan penyajian yang sudah umum digunakan pada kritik seni yaitu: deskripsi, analisis, interpretasi, dan evaluasi.
Setelah mengetahui beberapa konsep kritik seni musik. Ada 4 hal pokok dalam kegiatan penyajian yang sudah umum digunakan pada kritik seni yaitu: deskripsi, analisis, interpretasi, dan evaluasi.
Pada bagian deskripsi, hal yang paling mendasar adalah penyajian fakta yang bersumber langsung dari karya musik yang dianalisis. Penyajian fakta ini berupa pernyataan elemen dan warna bunyi yang digunakan. Faktor-faktor pendukung penyajian juga termasuk bagian deskripsi. Pada tahap ini dinyatakan secara lengkap bagaimana elemen atau unsur-unsur tersebut diperlakukan dalam penyajian musik.
Analisis adalah uraian berupa penjelasan hal-hal yang penting dari unsur nada, melodi, harmoni, ritme, dan dinamika musik. Unsur-unsur tersebut dinyatakan pada bagian mana pentingnya dalam mendukung penuangan atau penyajian gagasan. Inilah tahap menyatakan mutu suatu karya musik berdasarkan analisis unsur-unsur penyajiannya. Pengetahuan teknis dan pengalaman musikal kritikus sangat diperlukan pada tahap ini.
·
·
Interpretasi. Dalam interpretasi dinyatakan pula bagaimana tingkat ketercapaian nilai artisitik suatu penyajian musik dengan gagasan serta maksud dari pertunjukan tersebut. Membandingkan dengan karya sejenis dapat menjadi faktor pertimbangan dalam tahap Kesemuanya itu dijabarkan dalam interpretasi. Tahap ini dapat dikatakan sebagai pendekatan induktif karena dimulai dari hal-hal yang ada dalam suatu karya musik, bukan dari hukum-hukum yang bersifat umum (deduktif).
·
·
Evaluasi. Bagian akhir penyajian kritik adalah evaluasi. Inilah tahap yang cukup penting dalam kritik musik karena kritikus akan menyatakan pendapatnya atas penyajian suatu musik. Pendapat yang dimaksud bukan pendapat pribadi tanpa dasar. Dasar pernyataan dalam evaluasi adalah hasil dari deskripsi dan analisis yang ditunjang interpretasi. Pernyataan yang pokok dalam tahap evaluasi adalah kebaikan atau kegagalan suatu penyajian musik. Kebaikan atau kekurangan merupakan pertimbangan atas gagasan dengan ketercapaian dalam penyajian musik. Pernyataan kebaikan, berupa kelebihan-kelebihan yang ditemukan atau sebaliknya akan membangun pemahaman peningkatan penyajian karya musik.
Penyajian kritik musik dapat dilakukan secara lisan maupun tulisan. Penyajian secara tulisan disusun seperti urutan penyaian di atas. Pada awal tulisan perlu kiranya ditambahkan bagian pendahuluan. Dengan demikian penyajian kritik dalam bentuk tulisan meliputi:
· Pendahuluan
· Deskripsi
· Analsis
· Interpretasi
· Evaluasi
Bagian pendahuluan berisi tentang identitas musik yang akan dikritisi, seperti nama penulis atau pencipta musiknya, judul karya, nama penyajinya dan lain-lain yang dianggap perlu untuk diketahui oleh pembaca. Dalam hal musik vokal, lirik lagu termasuk bagian yang tidak terpisahkan dalam analisis kritik musik. Lirik lagu karena berbasis bahasa maka dapat dianalsisis makna yang terkandung di dalamnya. Makna lirik lagu mencakup makna denotatif dan konotatif.
Sejarah Kritik Musik
Penyajian kritik musik dapat dilakukan secara lisan maupun tulisan. Penyajian secara tulisan disusun seperti urutan penyaian di atas. Pada awal tulisan perlu kiranya ditambahkan bagian pendahuluan. Dengan demikian penyajian kritik dalam bentuk tulisan meliputi:
· Pendahuluan
· Deskripsi
· Analsis
· Interpretasi
· Evaluasi
Bagian pendahuluan berisi tentang identitas musik yang akan dikritisi, seperti nama penulis atau pencipta musiknya, judul karya, nama penyajinya dan lain-lain yang dianggap perlu untuk diketahui oleh pembaca. Dalam hal musik vokal, lirik lagu termasuk bagian yang tidak terpisahkan dalam analisis kritik musik. Lirik lagu karena berbasis bahasa maka dapat dianalsisis makna yang terkandung di dalamnya. Makna lirik lagu mencakup makna denotatif dan konotatif.
Sejarah Kritik Musik
Kritik Musik Awal
Kegiatan kritik musik pertama kali di dunia di lakukan dua orang Yunani yaitu Xenophones dan Heraclitus sekitar tahun 500 SM. Xenophones dan Heraclitus mengecam keras pujangga besar bernama Homerus yang sering bernyanyi tentang hal-hal yang tidak senonoh tentang dewa dewi.
Kritik Musik Reneissance
Kegiatan kritik musik pertama kali di dunia di lakukan dua orang Yunani yaitu Xenophones dan Heraclitus sekitar tahun 500 SM. Xenophones dan Heraclitus mengecam keras pujangga besar bernama Homerus yang sering bernyanyi tentang hal-hal yang tidak senonoh tentang dewa dewi.
Kritik Musik Reneissance
Pada abad pertengahan istilah kritik hilang sama sekali. Barulah Polizianus pada tahun 1492 menggunakan istilah criticus dan Grammaticus. Scanlinger melakukan analisa dan perbandingan antara pujangga Yunani dan latih dengan adanya kritik modern di sertai pengembangan nya para penyair mulai merasa terganggu karena kegiatan kreatif mereka terganggu
Kritik Musik Di Inggris
Kritik Musik Di Inggris
Di Inggris abad 16 pada zaman pemerintah ratu Elizabeth istilah kritik sama sekali belum dikenal. Francis Bacon dengan bukunya “Advancement of Learning” adalah yang pertama yang kemungkinan besar menggunakan istilah kritik dalam sastra musik Inggris pada tahun 1605
Kritik Musik Indonesia Kritik musik dari segi pengertian dan istilah bukan merrupakan tradisi asli masyarakat Indonesia. Kritik musik baru muncul ketika para sastrawan Indonesia mendapat pendidikan dengan system Eropa pada awal abad ke 20
Konsep dan Pentingnya Pendidikan Seni Musik
Depdiknas, (2006:611) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mengemukakan tentang SK dan KD pendidikan seni, budaya, dan keterampilan menjelaskan bahwa pendidikan seni musik sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural. Pada bahasan ini dikaitkan dengan pendidikan seni musik.
Kritik Musik Indonesia Kritik musik dari segi pengertian dan istilah bukan merrupakan tradisi asli masyarakat Indonesia. Kritik musik baru muncul ketika para sastrawan Indonesia mendapat pendidikan dengan system Eropa pada awal abad ke 20
Konsep dan Pentingnya Pendidikan Seni Musik
Depdiknas, (2006:611) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) mengemukakan tentang SK dan KD pendidikan seni, budaya, dan keterampilan menjelaskan bahwa pendidikan seni musik sifat multilingual, multidimensional, dan multikultural. Pada bahasan ini dikaitkan dengan pendidikan seni musik.
*Multilingual bermakna pengembangan kemampuan mengekspresikan diri secara kreatif dengan berbagai cara dan media seperti bahasa rupa, bunyi, gerak, peran dan berbagai perpaduannya. *Multidimensional bermakna pengembangan beragam kompetensi meliputi konsepsi (pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi), apresiasi, dan kreasi dengan cara memadukan secara harmonis unsur estetika, logika, kinestetika, dan etika.
*Sifat multikultural mengandung makna pendidikan seni menumbuhkembangkan kesadaran dan kemampuan apresiasi terhadap beragam budaya Nusantara dan Mancanegara. Hal ini merupakan wujud pembentukan sikap demokratis yang memungkinkan seseorang hidup secara beradab serta toleran dalam masyarakat dan budaya yang majemuk.
Fungsi Seni Musik
Rien (1999:1) mengemukakan tentang pendapat para pakar pendidikan yang menyatakan bahwa seni musik mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan seorang siswa. Siswa yang berpartisipasi dalam kegiatan seni musik, selain dapat mengembangkan kreativitas, musik juga dapat membantu perkembangan individu, mengembangkan sensitivitas, membangun rasa keindahan, mengungkapkan ekspresi, memberikan tantangan, melatih disiplin dan mengenalkan siswa pada sejarah budaya bangsa mereka.
Pendidikan seni musik juga berfungsi untuk meningkatkan konsentrasi, keseriusan, kepekaan terhadap lingkungan. Untuk menyanyikan atau memainkan musik yang indah, diperlukan konsentrasi penuh, keseriusan, dan kepekaan rasa mereka terhadap tema lagu atau musik yang dimainkan. Sehingga pesan yang terdapat pada lagu atau musik bisa tersampaikan dan diterima oleh pendengar.
Berdasarkan beberapa pandangan tentang fungsi pendidikan seni musik bagi siswa yang sejalan dengan pendekatan “Belajar dengan Seni, Belajar Melalui Seni, dan Belajar tentang Seni”, berikut ini dikemukakan secara urut fungsi pendidikan seni musik sebagai sarana atau media ekspresi, komunikasi, bermain, pengembangan bakat, dan kreativitas.
§ Pendidikan seni musik sebagai sarana/media ekspresi
Ekspresi merupakan ungkapan atau pernyataan seseorang. Perasaan dapat berupa sedih, gembira, risau, marah, menyeramkan atau sesuai dengan masalah yang dihadapi. Fungsi ini memungkinkan untuk mengeksplorasi ekpresi siswa dalam memunculkan karya-karya baru.
Rien (1999:1) mengemukakan tentang pendapat para pakar pendidikan yang menyatakan bahwa seni musik mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan seorang siswa. Siswa yang berpartisipasi dalam kegiatan seni musik, selain dapat mengembangkan kreativitas, musik juga dapat membantu perkembangan individu, mengembangkan sensitivitas, membangun rasa keindahan, mengungkapkan ekspresi, memberikan tantangan, melatih disiplin dan mengenalkan siswa pada sejarah budaya bangsa mereka.
Pendidikan seni musik juga berfungsi untuk meningkatkan konsentrasi, keseriusan, kepekaan terhadap lingkungan. Untuk menyanyikan atau memainkan musik yang indah, diperlukan konsentrasi penuh, keseriusan, dan kepekaan rasa mereka terhadap tema lagu atau musik yang dimainkan. Sehingga pesan yang terdapat pada lagu atau musik bisa tersampaikan dan diterima oleh pendengar.
Berdasarkan beberapa pandangan tentang fungsi pendidikan seni musik bagi siswa yang sejalan dengan pendekatan “Belajar dengan Seni, Belajar Melalui Seni, dan Belajar tentang Seni”, berikut ini dikemukakan secara urut fungsi pendidikan seni musik sebagai sarana atau media ekspresi, komunikasi, bermain, pengembangan bakat, dan kreativitas.
§ Pendidikan seni musik sebagai sarana/media ekspresi
Ekspresi merupakan ungkapan atau pernyataan seseorang. Perasaan dapat berupa sedih, gembira, risau, marah, menyeramkan atau sesuai dengan masalah yang dihadapi. Fungsi ini memungkinkan untuk mengeksplorasi ekpresi siswa dalam memunculkan karya-karya baru.
§ Pendidikan seni musik sebagai media komunikasi
Ekspresi yang dieksplorasikan akan dikomunikasikan kepada orang lain. Artinya karya-karya seni musik yang dialami siswa dikomunikasikan sehingga pesan yang terdapat dalam karya tersebut bisa tersampaikan pada orang lain.
Ekspresi yang dieksplorasikan akan dikomunikasikan kepada orang lain. Artinya karya-karya seni musik yang dialami siswa dikomunikasikan sehingga pesan yang terdapat dalam karya tersebut bisa tersampaikan pada orang lain.
§ Pendidikan seni musik sebagai sarana bermain
Bermain merupakan dunia anak-anak. Anak-anak memerlukan kegiatan yang bersifat rekreatif yang menyenangkan bagi pertumbuhan jiwanya. Bermain sekaligus memberikan kegiatan penyeimbang dan penyelaras atas perkembangan individu anak secara pisik dan psikis.
Bermain merupakan dunia anak-anak. Anak-anak memerlukan kegiatan yang bersifat rekreatif yang menyenangkan bagi pertumbuhan jiwanya. Bermain sekaligus memberikan kegiatan penyeimbang dan penyelaras atas perkembangan individu anak secara pisik dan psikis.
§ Pendidikan seni sebagai media pengembangan bakat.
Setiap siswa memiliki potensi di bidang seni musik yang luar biasa. Pendidikan seni musik di tekankan untuk memberikan pemupukan yang terus menerus sehingga diperlukan upaya efektif untuk menumbuhkan bakat siswa.
Setiap siswa memiliki potensi di bidang seni musik yang luar biasa. Pendidikan seni musik di tekankan untuk memberikan pemupukan yang terus menerus sehingga diperlukan upaya efektif untuk menumbuhkan bakat siswa.
§ Pendidikan seni sebagai media kreativitas
Kreatif merupakan sifat yang dilekatkan pada diri manusia yang dikaitkan dengan kemampuan atau daya untuk menciptakan. Sifat kreatifitas ini senantiasa diperlukan untuk mengiringi tingkah laku manusia dalam rangka memenuhi kebutuhannya.
Kreatif merupakan sifat yang dilekatkan pada diri manusia yang dikaitkan dengan kemampuan atau daya untuk menciptakan. Sifat kreatifitas ini senantiasa diperlukan untuk mengiringi tingkah laku manusia dalam rangka memenuhi kebutuhannya.
Kesimpulan
Kritik musik adalah penganalisaan dan pengevaluasian suatu karya musik dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki karya tersebut. Fungsi kritik musik adalah sebagai berikut :
© Pengenalan karya musik dan memperluas wawasan masyarakat.
© Jembatan antara pencipta, penyaji, dan pendengar.
© Eevaluasi diri bagi pencipta dan penyaji musik.
© Pengembangan mutu karya musik
© Pengenalan karya musik dan memperluas wawasan masyarakat.
© Jembatan antara pencipta, penyaji, dan pendengar.
© Eevaluasi diri bagi pencipta dan penyaji musik.
© Pengembangan mutu karya musik
Kegiatan kritik musik pertama kali di dunia di lakukan dua orang Yunani yaitu Xenophones dan Heraclitus sekitar tahun 500 SM. Xenophones dan Heraclitus mengecam keras pujangga besar bernama Homerus yang sering bernyanyi tentang hal-hal yang tidak senonoh tentang dewa dewi.
Kritik dan Saran
Ø Kritik
Kemajuan kritik terutama dalam sastra musik telah berkembang dengan perubahan waktu, dengan kritik musik para kritikus dapat memberikan masukan baik itu berupa pendapat yang positif maupun negativ kepada para penyaji maupun pendengar mengenai hal itu. Bagi penyaji musik, kritik musik merupakan bentuk apresiasinya agar kedepan mereka bisa lebih baik.
Ø Saran
Sebaiknya dalam memberikan kritik harus apa adanya tidak boleh dibuat-buat apalagi jika ditambah dengan kata yang keluar dari objek kritik, untuk para pendengar harus lebih memperhatikan dan berperan sebagai pendengar dan menerima kritik, sedangkan untuk penyaji musik harus lebih berhati-hati jika ada kesalahan dalam musik karena bisa menyebabkan para kritikus mengkritik hal yang kurang memuaskan
blogpekick.blogspot.com
4/10/2018 06:37:00 pm
New Google SEO
Bandung, IndonesiaØ Kritik
Kemajuan kritik terutama dalam sastra musik telah berkembang dengan perubahan waktu, dengan kritik musik para kritikus dapat memberikan masukan baik itu berupa pendapat yang positif maupun negativ kepada para penyaji maupun pendengar mengenai hal itu. Bagi penyaji musik, kritik musik merupakan bentuk apresiasinya agar kedepan mereka bisa lebih baik.
Ø Saran
Sebaiknya dalam memberikan kritik harus apa adanya tidak boleh dibuat-buat apalagi jika ditambah dengan kata yang keluar dari objek kritik, untuk para pendengar harus lebih memperhatikan dan berperan sebagai pendengar dan menerima kritik, sedangkan untuk penyaji musik harus lebih berhati-hati jika ada kesalahan dalam musik karena bisa menyebabkan para kritikus mengkritik hal yang kurang memuaskan
PERTUNJUKAN
MUSIK
A. Pengertian Pertunjukkan Musik
Sesuai dengan pengertian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia , istilah pertunjukan berarti sesuatu yang dipertunjukkan atau tontonan (bioskop, wayang, dan sebagainya), atau juga pameran. Mengacu pada pengertian itu maka apakah pengertian dari pertunjukan musik.
Sesuai dengan pengertian dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia , istilah pertunjukan berarti sesuatu yang dipertunjukkan atau tontonan (bioskop, wayang, dan sebagainya), atau juga pameran. Mengacu pada pengertian itu maka apakah pengertian dari pertunjukan musik.
Arti
pergelaran dalam dunia seni pertunjukan, terutama seni musik adalah
mempergelarkan atau menyajikan karya seni musik di hadapan masyarakat yang
menyaksikan. Bentuk penyajiannya bermacam-macam baik secara perorangan maupun
kelompok.
Kritik Musik (Kls XI)
A. Pentingnya Kritik Musik
Kritik musik
tentunya bukan hanya komentar sesaat seusai pertunjukan tetapi juga suatu
ulasan mendalam dan luas guna memberi pemahaman atas karya. Kritik musik
berusaha menghubungkan karya musik dan pelakunya dengan masyarakat musik
(pendengar) sehingga terbangun suatu pemahaman atas nilai-nilai keindahan
(estetika).
A. Pengertian Kritik Seni Rupa (Kls X))
Untuk dapat memahami dan membuat kritik karya seni rupa, terlebih dahulu kamu harus memahami pengertian dan kegiatan apresiasi karya seni rupa terlebih dahulu. Apresiasi atau mengapresiasi karya seni berati memahami sepenuhnya seluk beluk karya serta peka terhadap segi estetika karya seni. Kegiatan apresiasi dapat juga dikatakan sebagai upaya untuk memahami berbagai hasil karya seni dengan berbagai permasalahannya serta menjadi lebih sensitif terhadap nilai-nilai estetika yang terkandung di dalamnya. Dengan lebih memahami dan menyadari sepenuhnya seluk beluk suatu hasil karya seni serta menjadi lebih peka terhadap segi-segi estetikanya seseorang diharapkan dapat menikmati dan menilai karya seni tersebut dengan semestinya.
Kegiatan apresiasi memiliki dua fungsi, yang pertama yaitu agar kita dapat memupuk dan meningkatkan kecintaan terhadap karya seni bangsa sendiri dan sekaligus kecintaan terhadap sesama manusia. Yang kedua adalah fungsi apresiasi yang bersifat khusus, maksudnya ada hubungannya dengan kegiatan mental kita yaitu penikmatan, penilaian, hiburan dan empati. Apresiasi seni juga memiliki manfaat besar bagi ketahanan budaya Indonesia. Melalui kegiatan apresiasi karya seni Indonesia, kamu dapat memahami dan menghargai budaya bangsa sendiri.
Pengertian kritik dalam seni bukan berarti sebagai kecaman yang menyudutkan hasil karya atau penciptanya. Hampir sama dengan kegiatan apresiasi, kritik seni pada dasarnya adalah kegiatan menanggapi hasil karya seni. Perbedaanya adalah hanya pada fokus dari kritik seni yang bertujuan untuk menilai dan menunjukkan kelebihan dan kekurangan suatu karya seni. Penilaian kelebihan dan kekurangan ini digunakan dalam berbagai aspek, terutama sebagai bahan untuk menunjukkan kualitas sebuah karya seni. Umumnya para ahli seni beranggapan bahwa kegiatan kritik seni dimulai dari kebutuhan untuk mengapresiasi kemudian meningkat pada kebutuhan untuk memperoleh kesenangan dari kegiatan perbincangan berbagai hal yang berkaitan dengan karya seni tersebut.
Kritik karya seni tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan kualitas pemahaman dan apresiasi terhadap karya seni, tetapi juga digunakan sebagai standar untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil berkarya seni. Tanggapan dan penilaian terhadap hasil karya seni yang disampaikan oleh seorang kritikus seni ternama sangat mempengaruhi persepsi penikmat terhadap kualitas karya seni dan bahkan dapat mempengaruhi nilai ekonomis karya seni tersebut.
Dalam dunia pendidikan, kritik seni berfungsi sebagai kegiatan untuk mengevaluasi proses pembelajaran seni. Kekurangan dan kelemahan sebuah karya dapat dijadikan sebagai bahan analisis untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil pembelajaran seni tersebut.
Jenis Kritik Seni
Kritik karya seni mempunyai perbedaan kualitas dan tujuan. Karena perbedaan tersebut, dapat dijumpai perbedaan beberapa jenis kritik karya seni berdasarkan pendekatannya seperti yang disampaikan Fieldman (1967), yaitu;
1. Kritik Jurnalistik (Journalistic Criticism)
Kritik jurnalistik adalah jenis kritik seni yang penilaian atau hasil tanggapannya disampaikan secara terbuka kepada masyarakat melalui media massa. Kritik jurnalistik biasanya sangat cepat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kualitas sebuah karya seni, terutama karena penilaian atau hasil tanggapannya (kritik) disampaikan melalui media masa.
2. Kritik Populer (Popular Criticism)
Kritik populer adalah jenis kritik seni yang tujuannya untuk konsumsi umum/ masyarakat. Tanggapan yang disampaikan melalui kritik populer biasanya bersifat umum atau lebih kepada pengenalan atau publikasi sebuah karya seni. Kritik jenis ini umumnya menggunakan gaya bahasa dan istilah-istilah sederhana sehingga mudah dipahami masyarakat awam.
3. Kritik Keilmuan (Scholarly Criticism)
Kritik keilmuan adalah kritik seni yang bersifat akademis dengan wawasan pengetahuan, kepekaan, serta kemampuan kritikus yang tinggi untuk menilai dan menanggapi sebuah karya seni. Kritik keilmuan umumnya disampaikan oleh seorang kritikus yang sudah teruji kemampuannya dalam bidang seni atau kritik yang disampaikan sudah mengikuti metodologi atau kaidah-kaidah kritik secara akademis. Hasil tanggapan melalui jenis kritik ini biasanya dijadikan sebagai referensi bagi para kolektor atau kurator institut seni seperti galeri seni, museum seni, dan balai lelang.
4. Kritik Pendidikan (Pedagogical Criticism)
Kritik pendidikan adalah kritik seni yang bertujuan untuk mengangkat atau meningkatkan kepekaan artistik dan estetik subjek belajar seni. Kritik pendidikan umumnya digunakan di lembaga pendidikan seni terutama untuk meningkatkan kualitas hasil karya seni yang dibuat oleh peserta didiknya. Di sekolah umum termasuk kritik jenis inilah yang digunakan oleh guru dalam penyelenggaraan mata pelajaran pendidikan seni.
Selain Keempat bentuk kritik seni di atas, dikenal pula beberapa bentuk kritik, yaitu;
1. Kritik Formalistik
Jenis kritik ini dilakukan melalui pendekatan formalistik, kajian kritik ini ditujukan terhadap karya seni dalam hal susunan aspek-aspek formalnya atau yang berkaitan dengan unsur-unsur pembentuknya. Sebagai contoh dalam hal karya lukis, sasaran kritik ditujukan pada kualitas komposisi unsur-unsur visual seperti garis, warna, tekstur dan sebagainya dalam karya seni tersebut. Kritik formalistik berkaitan dengan kualitas teknis dan kualitas bahan yang digunakan dalam berkarya seni.
2. Kritik Ekspresivistik
Jenis kritik ini dilakukan melalui pendekatan ekspresiivistik, pada kritik ini, kritikus lebih cenderung menilai dan menanggapi kualitas gagasan dan perasaan yang ingin disampaikan seniman melalui karya seninya. Kegiatan kritik seni ini pada umumnya menanggapi keterkaitan dan kesesuaian antara judul, isi, tema, dan visualisasi objek yang ditampilkan dalam sebuah karya seni.
3. Kritik Instrumentalistik
Jenis kritik ini dilakukan melalui pendekatan instrumentalistik, kritik ini cenderung menilai karya seni berdasarkan kemampuannya dalam mencapai tujuan religius, moral, psikologis atau politik. Pada prakteknya, jenis kritik ini penggunaannya disesuaikan dengan jenis dan tujuan pembuatan karya seni rupanya.
Fungsi Kritik Seni Rupa
Kritik karya seni rupa memiliki peran yang sangat penting dalam dunia pendidikan maupun dunia seni rupa. Fungsi kritik seni rupa yang paling utama adalah menjembatani apresiasi dan persepsi artistik dan estetik karya seni rupa, antara perupa, karya dan juga penikmat seni. Komunikasi antara karya dengan penikmat seni akan menimbulkan timbal balik antara keduanya. Bagi perupa, fungsi kritik seni adalah untuk mendeteksi kelemahan, membangun kekurangan, serta mengupas kedalaman pada karya seninya. Sedangkan bagi penikmat seni, fungsi kritik seni adalah untuk membantu memahami karya, serta meningkatkan pengetahuan dan wawasan terhadap karya yang berkualitas.
Sumber :SeniBudayaku.com.
B. CONTOH KRITIK SENI LUKIS
Untuk dapat memahami dan membuat kritik karya seni rupa, terlebih dahulu kamu harus memahami pengertian dan kegiatan apresiasi karya seni rupa terlebih dahulu. Apresiasi atau mengapresiasi karya seni berati memahami sepenuhnya seluk beluk karya serta peka terhadap segi estetika karya seni. Kegiatan apresiasi dapat juga dikatakan sebagai upaya untuk memahami berbagai hasil karya seni dengan berbagai permasalahannya serta menjadi lebih sensitif terhadap nilai-nilai estetika yang terkandung di dalamnya. Dengan lebih memahami dan menyadari sepenuhnya seluk beluk suatu hasil karya seni serta menjadi lebih peka terhadap segi-segi estetikanya seseorang diharapkan dapat menikmati dan menilai karya seni tersebut dengan semestinya.
Kegiatan apresiasi memiliki dua fungsi, yang pertama yaitu agar kita dapat memupuk dan meningkatkan kecintaan terhadap karya seni bangsa sendiri dan sekaligus kecintaan terhadap sesama manusia. Yang kedua adalah fungsi apresiasi yang bersifat khusus, maksudnya ada hubungannya dengan kegiatan mental kita yaitu penikmatan, penilaian, hiburan dan empati. Apresiasi seni juga memiliki manfaat besar bagi ketahanan budaya Indonesia. Melalui kegiatan apresiasi karya seni Indonesia, kamu dapat memahami dan menghargai budaya bangsa sendiri.
Pengertian kritik dalam seni bukan berarti sebagai kecaman yang menyudutkan hasil karya atau penciptanya. Hampir sama dengan kegiatan apresiasi, kritik seni pada dasarnya adalah kegiatan menanggapi hasil karya seni. Perbedaanya adalah hanya pada fokus dari kritik seni yang bertujuan untuk menilai dan menunjukkan kelebihan dan kekurangan suatu karya seni. Penilaian kelebihan dan kekurangan ini digunakan dalam berbagai aspek, terutama sebagai bahan untuk menunjukkan kualitas sebuah karya seni. Umumnya para ahli seni beranggapan bahwa kegiatan kritik seni dimulai dari kebutuhan untuk mengapresiasi kemudian meningkat pada kebutuhan untuk memperoleh kesenangan dari kegiatan perbincangan berbagai hal yang berkaitan dengan karya seni tersebut.
Kritik karya seni tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan kualitas pemahaman dan apresiasi terhadap karya seni, tetapi juga digunakan sebagai standar untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil berkarya seni. Tanggapan dan penilaian terhadap hasil karya seni yang disampaikan oleh seorang kritikus seni ternama sangat mempengaruhi persepsi penikmat terhadap kualitas karya seni dan bahkan dapat mempengaruhi nilai ekonomis karya seni tersebut.
Dalam dunia pendidikan, kritik seni berfungsi sebagai kegiatan untuk mengevaluasi proses pembelajaran seni. Kekurangan dan kelemahan sebuah karya dapat dijadikan sebagai bahan analisis untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan hasil pembelajaran seni tersebut.
Jenis Kritik Seni
Kritik karya seni mempunyai perbedaan kualitas dan tujuan. Karena perbedaan tersebut, dapat dijumpai perbedaan beberapa jenis kritik karya seni berdasarkan pendekatannya seperti yang disampaikan Fieldman (1967), yaitu;
1. Kritik Jurnalistik (Journalistic Criticism)
Kritik jurnalistik adalah jenis kritik seni yang penilaian atau hasil tanggapannya disampaikan secara terbuka kepada masyarakat melalui media massa. Kritik jurnalistik biasanya sangat cepat mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap kualitas sebuah karya seni, terutama karena penilaian atau hasil tanggapannya (kritik) disampaikan melalui media masa.
2. Kritik Populer (Popular Criticism)
Kritik populer adalah jenis kritik seni yang tujuannya untuk konsumsi umum/ masyarakat. Tanggapan yang disampaikan melalui kritik populer biasanya bersifat umum atau lebih kepada pengenalan atau publikasi sebuah karya seni. Kritik jenis ini umumnya menggunakan gaya bahasa dan istilah-istilah sederhana sehingga mudah dipahami masyarakat awam.
3. Kritik Keilmuan (Scholarly Criticism)
Kritik keilmuan adalah kritik seni yang bersifat akademis dengan wawasan pengetahuan, kepekaan, serta kemampuan kritikus yang tinggi untuk menilai dan menanggapi sebuah karya seni. Kritik keilmuan umumnya disampaikan oleh seorang kritikus yang sudah teruji kemampuannya dalam bidang seni atau kritik yang disampaikan sudah mengikuti metodologi atau kaidah-kaidah kritik secara akademis. Hasil tanggapan melalui jenis kritik ini biasanya dijadikan sebagai referensi bagi para kolektor atau kurator institut seni seperti galeri seni, museum seni, dan balai lelang.
4. Kritik Pendidikan (Pedagogical Criticism)
Kritik pendidikan adalah kritik seni yang bertujuan untuk mengangkat atau meningkatkan kepekaan artistik dan estetik subjek belajar seni. Kritik pendidikan umumnya digunakan di lembaga pendidikan seni terutama untuk meningkatkan kualitas hasil karya seni yang dibuat oleh peserta didiknya. Di sekolah umum termasuk kritik jenis inilah yang digunakan oleh guru dalam penyelenggaraan mata pelajaran pendidikan seni.
Selain Keempat bentuk kritik seni di atas, dikenal pula beberapa bentuk kritik, yaitu;
1. Kritik Formalistik
Jenis kritik ini dilakukan melalui pendekatan formalistik, kajian kritik ini ditujukan terhadap karya seni dalam hal susunan aspek-aspek formalnya atau yang berkaitan dengan unsur-unsur pembentuknya. Sebagai contoh dalam hal karya lukis, sasaran kritik ditujukan pada kualitas komposisi unsur-unsur visual seperti garis, warna, tekstur dan sebagainya dalam karya seni tersebut. Kritik formalistik berkaitan dengan kualitas teknis dan kualitas bahan yang digunakan dalam berkarya seni.
2. Kritik Ekspresivistik
Jenis kritik ini dilakukan melalui pendekatan ekspresiivistik, pada kritik ini, kritikus lebih cenderung menilai dan menanggapi kualitas gagasan dan perasaan yang ingin disampaikan seniman melalui karya seninya. Kegiatan kritik seni ini pada umumnya menanggapi keterkaitan dan kesesuaian antara judul, isi, tema, dan visualisasi objek yang ditampilkan dalam sebuah karya seni.
3. Kritik Instrumentalistik
Jenis kritik ini dilakukan melalui pendekatan instrumentalistik, kritik ini cenderung menilai karya seni berdasarkan kemampuannya dalam mencapai tujuan religius, moral, psikologis atau politik. Pada prakteknya, jenis kritik ini penggunaannya disesuaikan dengan jenis dan tujuan pembuatan karya seni rupanya.
Fungsi Kritik Seni Rupa
Kritik karya seni rupa memiliki peran yang sangat penting dalam dunia pendidikan maupun dunia seni rupa. Fungsi kritik seni rupa yang paling utama adalah menjembatani apresiasi dan persepsi artistik dan estetik karya seni rupa, antara perupa, karya dan juga penikmat seni. Komunikasi antara karya dengan penikmat seni akan menimbulkan timbal balik antara keduanya. Bagi perupa, fungsi kritik seni adalah untuk mendeteksi kelemahan, membangun kekurangan, serta mengupas kedalaman pada karya seninya. Sedangkan bagi penikmat seni, fungsi kritik seni adalah untuk membantu memahami karya, serta meningkatkan pengetahuan dan wawasan terhadap karya yang berkualitas.
Sumber :SeniBudayaku.com.
B. CONTOH KRITIK SENI LUKIS
1. Deskripsi Karya
Lukisan karya pelukis Mulyo Gunarso ini berjudul “Impian Sarang”. Karya ini digarap pada tahun 2012 dengan ukuran 130x150 cm menggunakan cat akrilik pada kanvas. Lukisan yang berjudul “Impian Sarang” tersebut menampilkan subject matter sebuah sarang burung dengan keadaan alam yang indah di dalamnya. Alam yang digambarkan berupa gunung dan persawahan yang keadaannya masih alami dan indah. Subjek pendukung pada lukisan berupa pohon kering tau mati yang terlihat seperti habis dibakar dan awan pada background yang digarap secara transparan. Unsur warna yang terdapat pada subject matter adalah : warna coklat pada sarang, warna hijau pada pepohonan, kuning pada sawah dan biru keabu-abuan untuk warna gunung. Sedangkan untuk background, terdapat warna putih dan abu-abu yang terlihat transparan.
Dari segi teknik pembuatan karya, lukisan “Impian Sarang” digarap dengan teknik dry brush yaitu teknik sapuan kering. Bentuk atau form dari karya Gunarso ialah realistik dengan gaya surealisme. Proses penciptaannya terlihat penuh persiapan dan cukup matang tercermin dari hasil karyanya yang rapi, rumit, dan tertata. Gunarso sepertinya asyik bermain-main dengan komposisi. Ia mencoba menyampaikan kegelisahanya dalam bentuk karya dua dimensi yang menyiratkan segala kegelisahan melalui torehan kuas di kanvas dengan pilihan warna- warna yang menjadi karakter dalam karya lukisnya.
2. Analisis Formal
Representasi visual ditampilkan dengan bentuk realis yang terencana, tertata dan rapi, sesuai dengan konsep realis yang menyerupai bentuk asli suatu objek. Penggunaan gelap terang warna juga telah bisa memvisualisasikan gambar sesuai nyata. Penggarapan background yang transparan dengan warna abu-abu kontras dengan warna sarang yang entah disadarinya atau tidak. Sehingga jika dilihat dari kejauhan, background itu sendiri malahan lebih menarik perhatian audien dari pada subjek utamanya.
Dalam berkarya Gunarso mampu mengemas karyanya hingga memiliki karakter tersendiri yang mencerminkan bagian dari kegelisahan, latar belakang serta konflik yang disampaikan kepada audien, bagaimana dia mampu menarik dan memancing audien untuk berinteraksi secara langsung dan mencoba mengajak berfikir tentang apa yang dirasakan olehnya tentang issu yang terjadi di dalam negerinya, kegelisahan tentang kerusakan yang semakin parah.
3. Interpretasi
Dalam setiap karya seni sudah pasti terdapat makna dan pesan yang ingin disampaikan oleh seniman kepada audien atau masyarakatumum. Agar dapat mengetahui makna dan pesan dalam karya seni yang ingin disampaikan, kita membutuhkan intepretasi/ penafsiran untuk memaknainya yang didahului dengan mendeskripsikan. Dalam mendeskripsikan suatu karya seni, setiap orang mungkin saja sama karena mendeskripsikan adalah berkaitan dengan apa yang dilihatnya, tetapi dalam menafsirkan akan berbeda karena adanya perbedaan sudut pandang atau paradigma dari setiap orang.
2. Analisis Formal
Representasi visual ditampilkan dengan bentuk realis yang terencana, tertata dan rapi, sesuai dengan konsep realis yang menyerupai bentuk asli suatu objek. Penggunaan gelap terang warna juga telah bisa memvisualisasikan gambar sesuai nyata. Penggarapan background yang transparan dengan warna abu-abu kontras dengan warna sarang yang entah disadarinya atau tidak. Sehingga jika dilihat dari kejauhan, background itu sendiri malahan lebih menarik perhatian audien dari pada subjek utamanya.
Dalam berkarya Gunarso mampu mengemas karyanya hingga memiliki karakter tersendiri yang mencerminkan bagian dari kegelisahan, latar belakang serta konflik yang disampaikan kepada audien, bagaimana dia mampu menarik dan memancing audien untuk berinteraksi secara langsung dan mencoba mengajak berfikir tentang apa yang dirasakan olehnya tentang issu yang terjadi di dalam negerinya, kegelisahan tentang kerusakan yang semakin parah.
3. Interpretasi
Dalam setiap karya seni sudah pasti terdapat makna dan pesan yang ingin disampaikan oleh seniman kepada audien atau masyarakatumum. Agar dapat mengetahui makna dan pesan dalam karya seni yang ingin disampaikan, kita membutuhkan intepretasi/ penafsiran untuk memaknainya yang didahului dengan mendeskripsikan. Dalam mendeskripsikan suatu karya seni, setiap orang mungkin saja sama karena mendeskripsikan adalah berkaitan dengan apa yang dilihatnya, tetapi dalam menafsirkan akan berbeda karena adanya perbedaan sudut pandang atau paradigma dari setiap orang.
Dalam lukisan yang berjudul “Impian Sarang” ini, sang seniman mencoba menampilkan keadaan negeri yang telah banyak kerusakan. Kerusakan tersebut digambarkan pada background yaitu pohon-pohon yang kering tak berdaun dan mati yang seperti terlihat habis dibakar. Selain itu, seniman juga menampilkan gambar asap atau awan yang menggambarkan polusi udara yang dihasilkan dari pabrik, gas buang kendaraan bermotor, dan juga pembakaran hutan yang sering terjadi di negeri kita. Sebenarnya kerusakan yang sudah terjadi di negeri kita bukan hanya pembakaran hutan yang mengakibatkan polusi udara yang parah, tetapi masih banyak lagi seperti banjir, tanah lonsor, kekeringan dan lain sebagainya. Pada lukisan ini seniman memilih pembakaran hutan sebai gambaran kerusakakan negeri kita karena setiap tahun hal itu terjadi dan terus berulang-ulang.
Kemudian pada lukisan ini juga terdapat sebuah sarang burung dengan keadaan alam yang indah di dalamnya. Sarang burung ini diibaratkan oleh seniman sebagai bumi atau negeri kita, yaitu sebagai tempat tinggal, tempat berlindung dan tempat beraktivitas sehari-hari. Sedangkan alam yang indah merupakan impian dari keadaan negeri kita yaitu tanah yang subur, udara yang segar tanpa polusi, air yang jernih dan keadaan yang damai. Keadaan seperti itulah yang sebenarnya diimpikan oleh seniman pada negeri kita.
Perkembangan zaman yang begitu pesat mengakibatkan manusia menjadi serakah, egois, individualis dan acuh tak acuh terhadap sesama juga terhadap alam. Hal inilah yang mengakibatkan kerusakan di negeri kita. Gunarso lewat karya lukisannya ini seolah ingin memberi penyadaran kepada kita, untuk memulai menyelamatkan dan melestarikan alam negeri kita.
5. Penilaian
Penialaian keindahan suatu karya seni tidak hanya berdasar objek yang dilukis tetapi juga menyangkut isi dan makna. Pada lukisan “Impian Sarang” ini merupakan karya yang berkualitas, karena selain unsur visualnya digarap dengan serius, lukisan ini juga sarat akan pesan moral. Lukisan ini tidak memesis mutlak tanpa makna, karena dalam lukisan ini terdapat emosional dan personality Gunarso untuk menyampaikan gagasan.
blogpekick.blogspot.com
3/22/2018 01:50:00 am
New Google SEO
Bandung, IndonesiaPerkembangan zaman yang begitu pesat mengakibatkan manusia menjadi serakah, egois, individualis dan acuh tak acuh terhadap sesama juga terhadap alam. Hal inilah yang mengakibatkan kerusakan di negeri kita. Gunarso lewat karya lukisannya ini seolah ingin memberi penyadaran kepada kita, untuk memulai menyelamatkan dan melestarikan alam negeri kita.
5. Penilaian
Penialaian keindahan suatu karya seni tidak hanya berdasar objek yang dilukis tetapi juga menyangkut isi dan makna. Pada lukisan “Impian Sarang” ini merupakan karya yang berkualitas, karena selain unsur visualnya digarap dengan serius, lukisan ini juga sarat akan pesan moral. Lukisan ini tidak memesis mutlak tanpa makna, karena dalam lukisan ini terdapat emosional dan personality Gunarso untuk menyampaikan gagasan.
FENOMENA SENI RUPA
A. Seni Rupa Pramodern
A. Seni Rupa Pramodern
Pengertian seni rupa pramodern adalah karya seni rupa yang hadir sebelum zaman industri yang berarti muncul sebelum zaman modern. Perkembangan seni rupa dapat dilihat dari aspek kesejarahan yang merupakan rangkaian perubahan, baik dari aspek konseptual maupun aspek kebentukan. Berikut adalah aliran-aliran seni rupa pramodern yang bertahan hingga saat ini.
1. Aliran Primitivisme
Primitivisme merupakan corak karya seni rupa yang memilik beberapa sifat diantaranya bersahaja, sederhana, naif, jujur, spontan, baik dari segi penggarapan bentuk maupun pewarnaannya. Seniman bebas dari belenggu profesionalisme, teknik, tradisi, dan latihan formal proses kreasi seni ini. Ciri-ciri aliran primitivisme yaitu menggambarkan sebuah subjek dengan bagian yang sangat datar dan cenderung sangat sederhana sekali, selain itu juga terikat dengan kehidupan manusia saat zaman dahulu yang cenderung primitif.
Coba kalian search dan perhatikan contoh patung Dewi Kecantikan Yunani klasik mengekspresikan makna seni dengan idealisasi bentuk mimesis (mengimitasi atau meniru) rupa manusia dalam wujud yang indah dan sempurna.
2. Aliran Naturalisme
Naturalisme merupakan corak karya seni rupa dengan teknik pelukisannya yang berpedoman pada peniruan alam untuk menghasilkan karya seni. Oleh sebab itu seniman terikat pada hukum proporsi, perspektif, anatomi dan teknik pewarnaan untuk mendapatkan kemiripan yang sesuai dengan perwujudan objek yang dilihat mata. Tokoh seniman Indonesia yang menganut aliran naturalisme antara lain Pirngadi, Basoeki Abdullah, Trubus, Abdullah SR, Wakidi, Dullah, Rustamadji, Wahdi, dan lain sebagainnya.
3. Aliran Realisme
Aliran seni rupa ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari aliran naturalisme. Aliran ini muncul di belahan dunia Barat sekitar pertengahan abad ke-17. Aliran ini menunjukkan keyakinan seniman terhadap realitas duniawi yang kasat mata sebagai objek penciptaan karya seni.
Pada umumnya realisme dibedakan menjadi beberapa katagori, seperti realisme sosialis (cenderung mengungkapkan adegan-adegan kehidupan manusia yang serba sengsara, getir, dan pahit). Herbert Read menyatakan, seni rupa yang sepenuhnya dapat disebut sebagai realistis adalah yang berusaha dengan segala daya untuk menyatakan perwujudan objek dengan tepat, dan seni seperti ini, sebagaimana halnya filsafat realisme, selalu berdasarkan atas keyakinan keberadaan objektif dari sesuatu.
Jadi dalam pengertian murni aliran realis berusaha melukiskan keadaan secara nyata, seniman realis memandang dunia ini tanpa adanya ilusi, mereka menciptakan karya seni rupa yang nyata menggambarkan apa-apa yang nyata dan benar-benar ada di dunia ini. Tokoh-tokoh realisme yang ada di Indonesia antara lain Raden Saleh (realism romantis), S. Soedjojono, Dullah, Rustamadji (realism fotografis), Dede Eri Supria, Ronald Manullang (Realisme Baru).
4. Aliran Dekorativisme
Karya seni rupa dekoratif senantiasa berhubungan dengan hasrat untuk menyederhanakan bentuk dengan jalan mengadakan distorsi. Ciri-cirinya yaitu bersifat kegarisan, ritmis, berpola, pewarnaan yang rata, dan secara umum mempunyai kecenderungan yang kuat untuk menghias. Tujuan dan sifat hias ini akan menyebabkan keindahan rupa dekoratif termasuk kategori seni yang mudah dicerna oleh masyarakat. Pada karya seni dua dimensi sering mengabaikan unsur perspektif dan anatomi, sedangkan pada karya seni tiga dimensi mengabaikan plastisitas bentuk (naturalistis).
Karya seni rupa dekoratif dapat diklasifikasi menjadi 2 bagian utama, yakni dekoratif figuratif dan dekoratif geometris. Dekoratif figurative adalah yang biasanya ditandai dengan penggambaran wujud figure/ bentuk-bentuk di alam yang kita kenali. Seperti misalnya pemandangan,, hewan-hewan di tengah rimba pasar, kota, lukisan kehidupan sehari-hari, dan lain sebagainya. Namun teknik pelukisannya ini tidak berupaya untuk meniru rupa secara realistis, melainkan dikerjakan dengan bentuk yang datar tanpa memperhitungkan aspek volume dalam penggarapan bentuk visual.
Dekoratif geometris adalah karya seni rupa yang bebas dari peniruan alam, perwujudannya merupakan susunan motif, bentuk, atau pola tertentu di tata sedemikian rupa sehingga memiliki kapasitas untuk membangkitkan perasaan keindahan dalam diri pengamatnya. Lukisan-lukisan geometris cenderung rasional karena terikat pada pola, motif, atau bentuk-bentuk dan teknik pelukisan yang menuntut ketrampilan dan kesabaran dalam proses kreasinya.
Contoh seni rupa dekoratif geometris dapat dilihat pada ragam hias di daerah-daerah seluruh kepulauan Indonesia. Misalnya motif pilin berganda, lingkaran, elips, setengah lingkaran, segi tiga, prisma, empat persegi, dan lain-lain. Motif tersebut biasanya tersusun rapi dengan teknik pengulangan, sehingga tercipta suatu harmoni. Karena penempatannya mementingkan keteraturan dan kerapian, maka dalam bentuk tradisional komposisinya simetris. Namun kerap pula kita jumpai dalam era modern komposisi yang bebas, seperti pada karya Sapto Hudoyo dan Hatta Hambali.
Tokoh-tokoh pelukis dekoratif asal Indonesia adalah Amrus Natalsya, Irsam, Sarnadi Adam, Ahmad Sopandi, Kartono Yudokusumo, Widayat, Suparto, Ratmoyo, Batara Lubis, Boyke Aditya, A.Y. Kuncana, I Gusti Made Deblog, I Gusti Nyoman Lempad, I Gusti Ketut Kobot, dan masih masih banyak lagi.
1. Aliran Primitivisme
Primitivisme merupakan corak karya seni rupa yang memilik beberapa sifat diantaranya bersahaja, sederhana, naif, jujur, spontan, baik dari segi penggarapan bentuk maupun pewarnaannya. Seniman bebas dari belenggu profesionalisme, teknik, tradisi, dan latihan formal proses kreasi seni ini. Ciri-ciri aliran primitivisme yaitu menggambarkan sebuah subjek dengan bagian yang sangat datar dan cenderung sangat sederhana sekali, selain itu juga terikat dengan kehidupan manusia saat zaman dahulu yang cenderung primitif.
Coba kalian search dan perhatikan contoh patung Dewi Kecantikan Yunani klasik mengekspresikan makna seni dengan idealisasi bentuk mimesis (mengimitasi atau meniru) rupa manusia dalam wujud yang indah dan sempurna.
2. Aliran Naturalisme
Naturalisme merupakan corak karya seni rupa dengan teknik pelukisannya yang berpedoman pada peniruan alam untuk menghasilkan karya seni. Oleh sebab itu seniman terikat pada hukum proporsi, perspektif, anatomi dan teknik pewarnaan untuk mendapatkan kemiripan yang sesuai dengan perwujudan objek yang dilihat mata. Tokoh seniman Indonesia yang menganut aliran naturalisme antara lain Pirngadi, Basoeki Abdullah, Trubus, Abdullah SR, Wakidi, Dullah, Rustamadji, Wahdi, dan lain sebagainnya.
3. Aliran Realisme
Aliran seni rupa ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari aliran naturalisme. Aliran ini muncul di belahan dunia Barat sekitar pertengahan abad ke-17. Aliran ini menunjukkan keyakinan seniman terhadap realitas duniawi yang kasat mata sebagai objek penciptaan karya seni.
Pada umumnya realisme dibedakan menjadi beberapa katagori, seperti realisme sosialis (cenderung mengungkapkan adegan-adegan kehidupan manusia yang serba sengsara, getir, dan pahit). Herbert Read menyatakan, seni rupa yang sepenuhnya dapat disebut sebagai realistis adalah yang berusaha dengan segala daya untuk menyatakan perwujudan objek dengan tepat, dan seni seperti ini, sebagaimana halnya filsafat realisme, selalu berdasarkan atas keyakinan keberadaan objektif dari sesuatu.
Jadi dalam pengertian murni aliran realis berusaha melukiskan keadaan secara nyata, seniman realis memandang dunia ini tanpa adanya ilusi, mereka menciptakan karya seni rupa yang nyata menggambarkan apa-apa yang nyata dan benar-benar ada di dunia ini. Tokoh-tokoh realisme yang ada di Indonesia antara lain Raden Saleh (realism romantis), S. Soedjojono, Dullah, Rustamadji (realism fotografis), Dede Eri Supria, Ronald Manullang (Realisme Baru).
4. Aliran Dekorativisme
Karya seni rupa dekoratif senantiasa berhubungan dengan hasrat untuk menyederhanakan bentuk dengan jalan mengadakan distorsi. Ciri-cirinya yaitu bersifat kegarisan, ritmis, berpola, pewarnaan yang rata, dan secara umum mempunyai kecenderungan yang kuat untuk menghias. Tujuan dan sifat hias ini akan menyebabkan keindahan rupa dekoratif termasuk kategori seni yang mudah dicerna oleh masyarakat. Pada karya seni dua dimensi sering mengabaikan unsur perspektif dan anatomi, sedangkan pada karya seni tiga dimensi mengabaikan plastisitas bentuk (naturalistis).
Karya seni rupa dekoratif dapat diklasifikasi menjadi 2 bagian utama, yakni dekoratif figuratif dan dekoratif geometris. Dekoratif figurative adalah yang biasanya ditandai dengan penggambaran wujud figure/ bentuk-bentuk di alam yang kita kenali. Seperti misalnya pemandangan,, hewan-hewan di tengah rimba pasar, kota, lukisan kehidupan sehari-hari, dan lain sebagainya. Namun teknik pelukisannya ini tidak berupaya untuk meniru rupa secara realistis, melainkan dikerjakan dengan bentuk yang datar tanpa memperhitungkan aspek volume dalam penggarapan bentuk visual.
Dekoratif geometris adalah karya seni rupa yang bebas dari peniruan alam, perwujudannya merupakan susunan motif, bentuk, atau pola tertentu di tata sedemikian rupa sehingga memiliki kapasitas untuk membangkitkan perasaan keindahan dalam diri pengamatnya. Lukisan-lukisan geometris cenderung rasional karena terikat pada pola, motif, atau bentuk-bentuk dan teknik pelukisan yang menuntut ketrampilan dan kesabaran dalam proses kreasinya.
Contoh seni rupa dekoratif geometris dapat dilihat pada ragam hias di daerah-daerah seluruh kepulauan Indonesia. Misalnya motif pilin berganda, lingkaran, elips, setengah lingkaran, segi tiga, prisma, empat persegi, dan lain-lain. Motif tersebut biasanya tersusun rapi dengan teknik pengulangan, sehingga tercipta suatu harmoni. Karena penempatannya mementingkan keteraturan dan kerapian, maka dalam bentuk tradisional komposisinya simetris. Namun kerap pula kita jumpai dalam era modern komposisi yang bebas, seperti pada karya Sapto Hudoyo dan Hatta Hambali.
Tokoh-tokoh pelukis dekoratif asal Indonesia adalah Amrus Natalsya, Irsam, Sarnadi Adam, Ahmad Sopandi, Kartono Yudokusumo, Widayat, Suparto, Ratmoyo, Batara Lubis, Boyke Aditya, A.Y. Kuncana, I Gusti Made Deblog, I Gusti Nyoman Lempad, I Gusti Ketut Kobot, dan masih masih banyak lagi.
B. SENI RUPA MODERN
Pada dasarnya seni rupa berkonsep modernisme atau pengaruh modern ini muncul karena kelanjutan dari gejala perkembangan seni rupa dengan konsep sebelumnya yaitu seni rupa pramodern, dan merupakan salah satu aspek dari perkembangan budaya secara menyeluruh. Pada masa ini para ilmuan-ilmuan dengan kecerdasan dan temuannya bermunculan, sehingga muncullah zaman modern yaitu zaman yang dikuasai oleh ilmu pengetehauan dan teknologi. Dari situlah mulai mendorong terbentuknya seni rupa modern dengan perkembang yang semakin lama semakin pesat. Pada zaman ini pula seniman-seniman besar bermunculan disertai dengan karya-karyanyayang besar dan fenomenal yang dikenang hingga sekarang.
Jenis-jenis Seni Rupa Modern:
Jenis-jenis Seni Rupa Modern:
1. Seni Pop
Budaya pop tumbuh dari pertemuan beberapa kecenderungan dan juga kondisi sosial dan ekonomi pada masyarakat modern pada pertengahan tahun kurang ebih 1950-an. Pada era ini pengangguran konsumerisme sudang hilang ditandai juga dengan meningkatnya kesejahteraan sosial di masyarakat, berubahnya pandangan sosial, dan kesejahteraan yang lebih baik pada kaum muda, serta juga tingginya kepekaan dan pengalaman masarakat terhadap hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Pop Art adalah produk dari sistem perekonomian kapitalis, dalam hal tersbut segala hal dalam kehidupan ini termasuk hal-hal yang berada dalam realitas simbolisme didaya upayakan agar menjadi kooditi yang bisa dijual ke pasaran luas dan tersebar. Oleh karena hal tersebut, seni pop art ini lahir dari logika produk kesenian dan atas dasar logika pasar, bukan logika artistik yang menonjol. Dengan demikian, dalam dunia pop art yang berkembang pesat pada saat itu, eksistensi dari sang pencipta tidak terlalu penting bagi para konsumen penikmat seni pop art pada zamannya, yang lebih diperlukan dalam hal ini adalah produknya yang bisa dikemas sebagai komoditi utama dan dapat diterma dengan baik serta dapat dijual ke pasar luas. Kecuali jika sosok seniman itu juga merupakan komoditi yang bisa dijual dan berterima dikalangan masyarakat modern pada saat itu. dengan demikian maka semakin besar liputan media yang dia (pencipta karyaseni pop art) peroleh semakin laris karya-karyanya yang beredar di pasaran luas. Pada zaman ini muncullah seniman-seniman yang terpandang baik seperti, Andy Warhol, Roy Lichtenstein, Tom Wesselmann, dan lain-lain.
Maka kesimpulan dari pengertian pop art itu sendiri adalah suatu aktivitas produktif yang dilakukan oleh para seniman kreatif yang menggunakan pemberian kesan populersebagai hasil dari revolusi industri ekaligus pemanfaatan dari hasil revolusi tersebut.
2. Seni Optik
Pop Art adalah produk dari sistem perekonomian kapitalis, dalam hal tersbut segala hal dalam kehidupan ini termasuk hal-hal yang berada dalam realitas simbolisme didaya upayakan agar menjadi kooditi yang bisa dijual ke pasaran luas dan tersebar. Oleh karena hal tersebut, seni pop art ini lahir dari logika produk kesenian dan atas dasar logika pasar, bukan logika artistik yang menonjol. Dengan demikian, dalam dunia pop art yang berkembang pesat pada saat itu, eksistensi dari sang pencipta tidak terlalu penting bagi para konsumen penikmat seni pop art pada zamannya, yang lebih diperlukan dalam hal ini adalah produknya yang bisa dikemas sebagai komoditi utama dan dapat diterma dengan baik serta dapat dijual ke pasar luas. Kecuali jika sosok seniman itu juga merupakan komoditi yang bisa dijual dan berterima dikalangan masyarakat modern pada saat itu. dengan demikian maka semakin besar liputan media yang dia (pencipta karyaseni pop art) peroleh semakin laris karya-karyanya yang beredar di pasaran luas. Pada zaman ini muncullah seniman-seniman yang terpandang baik seperti, Andy Warhol, Roy Lichtenstein, Tom Wesselmann, dan lain-lain.
Maka kesimpulan dari pengertian pop art itu sendiri adalah suatu aktivitas produktif yang dilakukan oleh para seniman kreatif yang menggunakan pemberian kesan populersebagai hasil dari revolusi industri ekaligus pemanfaatan dari hasil revolusi tersebut.
2. Seni Optik
Ilmu optik pertama kali dipelajari dan digali dengan serius selama bertahun-tahun di laboratorium oleh seorang ahli filsafat dan juga ahli ilmu fisika yang berkebangsaan Inggris bernama Bacon pada tahun 1220-1292, yang mempelajari struktur cahaya dan kaitannya dengan mata manusia dalam kemampuan untuk menangkap warna yang terpancar dari luar.
Seni optik pada awal masa kemunculannya hanya meliputi seni dua dimensi dan seni tiga dimensi saja, yang didukung pada dasar atau berdasarkan pada ilmu optik, ilmu cahaya, dan ilmu warna untuk mengolah bentuk-bentuk tertentu yang digunakan untuk mengeksploitasi dan juga mengeksplorasi fallibilitas mata manusia. Seni optik pada umumnya berbentuk abstrak, formal, dan konstruktivis melalui bentuk yang khas seperti geometrik dan pengulangan yang teratur, rapi, teliti, sehingga dapat menimbulkan efek-efek yang penuh tipu daya terhadap mata manusia dan mengecoh mata dengan ilusi ruang. Warna-warna yang dimunculkan kebanyakan warna cerah atau ligthnes tinggi dengan memberikan batas pada hue atau juga disebut saturation yang tajam dan tegas. Contoh seniman yang bermunculan pada masa ini adalah Briget Riley, Yvaral, dan Reginal Neal. Seniman ini lebih banyak mengolah garis yang memberikan efek after image sebagai vibrasi kilauan pada mata.
3. Seni Konseptual
Seni optik pada awal masa kemunculannya hanya meliputi seni dua dimensi dan seni tiga dimensi saja, yang didukung pada dasar atau berdasarkan pada ilmu optik, ilmu cahaya, dan ilmu warna untuk mengolah bentuk-bentuk tertentu yang digunakan untuk mengeksploitasi dan juga mengeksplorasi fallibilitas mata manusia. Seni optik pada umumnya berbentuk abstrak, formal, dan konstruktivis melalui bentuk yang khas seperti geometrik dan pengulangan yang teratur, rapi, teliti, sehingga dapat menimbulkan efek-efek yang penuh tipu daya terhadap mata manusia dan mengecoh mata dengan ilusi ruang. Warna-warna yang dimunculkan kebanyakan warna cerah atau ligthnes tinggi dengan memberikan batas pada hue atau juga disebut saturation yang tajam dan tegas. Contoh seniman yang bermunculan pada masa ini adalah Briget Riley, Yvaral, dan Reginal Neal. Seniman ini lebih banyak mengolah garis yang memberikan efek after image sebagai vibrasi kilauan pada mata.
3. Seni Konseptual
Istilah konseptual merupakan sinonim dari idea art, conseptus dalam bahasa Latin berarti pikiran, gagasan, atau juga ide di dalamnya. Istilah ini muncul pertama kali pada yahun 1960 yang dikemukakan oleh Keinholz dan Herru Flint yang berasal dari California. Jadi konseptual adalah sesuatu yang berkaitan dengan konsep. Konsep atau ide adalah hal yang penting dalam penciptaan seni.
Seni konseptual ini mendapat kritikan dan sangat kontroversial karena lahirnya seni konseptual ini membalikkan fakta dan segala kemapanan dalam seni yaitu nilai-nilai, gaya, galeri, pasar seni, dan lain sebagainya. Para seniman yang bermunculan dengan seni konseptualnya menggunakan semiotika, feminisme dan budaya populer dalam berkarya, sehingga sangat berbeda, aneh, dan juga berlainan sekali dengan karya-karya seni konvensional yang beredar saat itu. Karena itu konseptualisme akhirnya menjadi paham pemikiran yang memayungi bentuk-bentuk seni yang tidak berwujud piktorial dan skulptural seperti Body Art, Eart Art, Vidoe Art, Performance Art, Process Art, Instalation Art dan lain sebagainya. Sejak kehadiran seni konseptual ini batas-batas dalam seni secara fisik mulai kabur, sebab seni konseptual mengakses hampir semua bentuk seni dan non seni.
4. Seni Kontemporer
Seni konseptual ini mendapat kritikan dan sangat kontroversial karena lahirnya seni konseptual ini membalikkan fakta dan segala kemapanan dalam seni yaitu nilai-nilai, gaya, galeri, pasar seni, dan lain sebagainya. Para seniman yang bermunculan dengan seni konseptualnya menggunakan semiotika, feminisme dan budaya populer dalam berkarya, sehingga sangat berbeda, aneh, dan juga berlainan sekali dengan karya-karya seni konvensional yang beredar saat itu. Karena itu konseptualisme akhirnya menjadi paham pemikiran yang memayungi bentuk-bentuk seni yang tidak berwujud piktorial dan skulptural seperti Body Art, Eart Art, Vidoe Art, Performance Art, Process Art, Instalation Art dan lain sebagainya. Sejak kehadiran seni konseptual ini batas-batas dalam seni secara fisik mulai kabur, sebab seni konseptual mengakses hampir semua bentuk seni dan non seni.
4. Seni Kontemporer
Menurut teoretikus yang berkebangsaan Jerman yang bernama Udo Kulterman, menurut dirinya pengertian kontemporer dekat dengan paham posmodern dalam arsitektur, paham baru ini menentang kerasionalan modernisme yang dingin dan berpihak pada simbolisme instingtif. Dalam terori yang bermunculan lebih baru tercatat prinsip pluralisme yang terbanyak mendasari pengertian kontemporer pada masa sekarang ini.
Dari berbagai keterangan yang ada, maka dapat ditentukan adanya dua paradigma pemahaman tentang aktivitas seni kontemporer. Pertama, kelompok yang mementingkan aktivitas seni sebagai aktivitas mental dari dalam diri senimannya. Kedua, kelompok yang mementingkan aktivitas seni yang ditujukan bagi kepentingan masyarakat luas maupun masyarakat sekitanya. Scruton melihat kecenderungan persepsi seperti itu sebagai sesuatu yang menyulitkan dalam penilaian estetik dalam sebuah karya seni.
C. Seni Rupa Postmodern
Seni rupa postmodern adalah gaya seni rupa yang merupakan perpaduan antara penyederhanaan bentuk dan sedikit ornamental, yang lebih bebas tanpa terikat dengan aturan tertentu. Kritik sosial dan kemasyarakatan adalah tema yang dominan untuk aliran seni rupa postmodern.
Dalam sejarah manusia, kita mengenal dengan tiga era atau zaman yang mempunyai ciri khasnya masing-masing yaitu pramodern, modern, dan postmodern. Postmodern adalah paham yang berkembang setelah jaman modern, postmodern memberikan pemahaman baru terhadap dunia menjadi dunia lebih luas. Banyak pemikiran dari postmodern yang melawan aturan-aturan pada aliran modernis meskipun banyak tokoh postmodern mengatakan bahwa mereka tidak melawan pakem-pakem modernis melainkan hanya merevisinya.
Secara etimologis Postmodernisme terbagi menjadi dua kata, post dan modern. Kata post,dalam Webster’s Dictionary Library adalah bentuk prefix, diartikan dengan ‘later or after’. Bila kita menyatukannya menjadi postmodern maka akan berarti sebagai koreksi terhadap modern itu sendiri dengan mencoba menjawab pertanyaan pertanyaan yang tidak dapat terjawab di jaman modern yang muncul karena adanya modernitas itu sendiri. Sedangkan secara terminologi, menurut tokoh dari postmodern, Pauline Rosenau (1992) mendefinisikan Postmodern secara gamblang dalam istilah yang berlawanan antara lain: Pertama, postmodernisme merupakan kritik atas masyarakat modern dan kegagalannya memenuhi janji-janjinya. Juga postmodern cenderung mengkritik segala sesuatu yang diasosiasikan dengan modernitas.Yaitu pada akumulasi pengalaman peradaban Barat adalah industrialisasi, urbanisasi, kemajuan teknologi, negara bangsa, kehidupan dalam jalur cepat.
Ciri-Ciri Seni Rupa Postmodern:
Objek Lukisannya Mengutamakan kebebasan berekspresi, dinamis dan tidak terikat aturan. Pada masa postmodern seni menjadi sangat luas cakupannya,dengan tawaran kebebasan dan berkarya secara menyeluruh namun tetap saja konsepsi dari postmodern itu sendiri sebagai sebuah pemikiran yang kritis sehingga karya seni yang dihasilkan tidak terbatas oleh visual dan estetika saja namun menuntut riset yang mendalam dan menyeluruh dalam berkarya sehingga terdapat gagasan dan pertangungjawaban dari karya seni yang dihasilkan bahkan tak jarang pertanggungjawaban dari karya seni yang lebih diutamakan,ini adalah cerminan dari pemikiran kritis atau budaya filosofi yang dianut oleh postmodern. menekankan media dari pada isi.
Contoh Ragam Seni Rupa:
1. Seni Lukis
Seni lukis merupakan salah satu cabang dari seni rupa murni yang berdimensi dua. Dari pembubuhan cat, para pelukis mencoba mengekspresikan berbagai makna atau nilai subjektif. nilai-nilai yang melekat pada lukisan dipengaruhi oleh budaya yang dimiliki pelukisnya. Seni lukis Indonesia yang berkembang, pada gilirannya nanti ikut mempertegas jati diri seni budaya Nusantara. Sedangkan seni lukis mancanegara menjadi pembanding seni budaya Nusantara.
Dari berbagai keterangan yang ada, maka dapat ditentukan adanya dua paradigma pemahaman tentang aktivitas seni kontemporer. Pertama, kelompok yang mementingkan aktivitas seni sebagai aktivitas mental dari dalam diri senimannya. Kedua, kelompok yang mementingkan aktivitas seni yang ditujukan bagi kepentingan masyarakat luas maupun masyarakat sekitanya. Scruton melihat kecenderungan persepsi seperti itu sebagai sesuatu yang menyulitkan dalam penilaian estetik dalam sebuah karya seni.
C. Seni Rupa Postmodern
Seni rupa postmodern adalah gaya seni rupa yang merupakan perpaduan antara penyederhanaan bentuk dan sedikit ornamental, yang lebih bebas tanpa terikat dengan aturan tertentu. Kritik sosial dan kemasyarakatan adalah tema yang dominan untuk aliran seni rupa postmodern.
Dalam sejarah manusia, kita mengenal dengan tiga era atau zaman yang mempunyai ciri khasnya masing-masing yaitu pramodern, modern, dan postmodern. Postmodern adalah paham yang berkembang setelah jaman modern, postmodern memberikan pemahaman baru terhadap dunia menjadi dunia lebih luas. Banyak pemikiran dari postmodern yang melawan aturan-aturan pada aliran modernis meskipun banyak tokoh postmodern mengatakan bahwa mereka tidak melawan pakem-pakem modernis melainkan hanya merevisinya.
Secara etimologis Postmodernisme terbagi menjadi dua kata, post dan modern. Kata post,dalam Webster’s Dictionary Library adalah bentuk prefix, diartikan dengan ‘later or after’. Bila kita menyatukannya menjadi postmodern maka akan berarti sebagai koreksi terhadap modern itu sendiri dengan mencoba menjawab pertanyaan pertanyaan yang tidak dapat terjawab di jaman modern yang muncul karena adanya modernitas itu sendiri. Sedangkan secara terminologi, menurut tokoh dari postmodern, Pauline Rosenau (1992) mendefinisikan Postmodern secara gamblang dalam istilah yang berlawanan antara lain: Pertama, postmodernisme merupakan kritik atas masyarakat modern dan kegagalannya memenuhi janji-janjinya. Juga postmodern cenderung mengkritik segala sesuatu yang diasosiasikan dengan modernitas.Yaitu pada akumulasi pengalaman peradaban Barat adalah industrialisasi, urbanisasi, kemajuan teknologi, negara bangsa, kehidupan dalam jalur cepat.
Ciri-Ciri Seni Rupa Postmodern:
Objek Lukisannya Mengutamakan kebebasan berekspresi, dinamis dan tidak terikat aturan. Pada masa postmodern seni menjadi sangat luas cakupannya,dengan tawaran kebebasan dan berkarya secara menyeluruh namun tetap saja konsepsi dari postmodern itu sendiri sebagai sebuah pemikiran yang kritis sehingga karya seni yang dihasilkan tidak terbatas oleh visual dan estetika saja namun menuntut riset yang mendalam dan menyeluruh dalam berkarya sehingga terdapat gagasan dan pertangungjawaban dari karya seni yang dihasilkan bahkan tak jarang pertanggungjawaban dari karya seni yang lebih diutamakan,ini adalah cerminan dari pemikiran kritis atau budaya filosofi yang dianut oleh postmodern. menekankan media dari pada isi.
Contoh Ragam Seni Rupa:
1. Seni Lukis
Seni lukis merupakan salah satu cabang dari seni rupa murni yang berdimensi dua. Dari pembubuhan cat, para pelukis mencoba mengekspresikan berbagai makna atau nilai subjektif. nilai-nilai yang melekat pada lukisan dipengaruhi oleh budaya yang dimiliki pelukisnya. Seni lukis Indonesia yang berkembang, pada gilirannya nanti ikut mempertegas jati diri seni budaya Nusantara. Sedangkan seni lukis mancanegara menjadi pembanding seni budaya Nusantara.
Silahkan Search Lukisan Gadis di Depan Cermin karya Pablo Picasso
2. Seni Patung
Seni patung merupakan cabang dari seni rupa murni yang berdimensi tiga. Membuat patung berarti membuat benda tiga dimensi dengan bahan, alat, dan teknik tertentu sehingga menghasilkan karya yang indah dan bermakna.
Silahkan search Patung The Kiss-Auguste Rodin (Prancis)
3. Seni Grafis
Seni Grafis merupakan cabang dari karya seni rupa murni yang berdimensi dua. Berdasarkan dimensinya, seni grafis sama dengan seni lukis, namun dari segi teknik pembuatannya memiliki perbedaan. Seni lukis dengan teknik aquarel, plakat, atau tempra, sedangkan seni grafis dibuat dengan teknik mencetak. Seni grafis dapat dibuat dengan teknik cetak tinggi, cetak dalam, setak saring, dan cetak cahaya (photography).
2. Seni Patung
Seni patung merupakan cabang dari seni rupa murni yang berdimensi tiga. Membuat patung berarti membuat benda tiga dimensi dengan bahan, alat, dan teknik tertentu sehingga menghasilkan karya yang indah dan bermakna.
Silahkan search Patung The Kiss-Auguste Rodin (Prancis)
3. Seni Grafis
Seni Grafis merupakan cabang dari karya seni rupa murni yang berdimensi dua. Berdasarkan dimensinya, seni grafis sama dengan seni lukis, namun dari segi teknik pembuatannya memiliki perbedaan. Seni lukis dengan teknik aquarel, plakat, atau tempra, sedangkan seni grafis dibuat dengan teknik mencetak. Seni grafis dapat dibuat dengan teknik cetak tinggi, cetak dalam, setak saring, dan cetak cahaya (photography).
blogpekick.blogspot.com
3/21/2018 10:53:00 am
New Google SEO
Bandung, Indonesia![]() |
| Lukisan Pangeran Dipenogoro Karya Basuki Abdullah |
A.Seni Lukis
Jika dilihat dari sisi
teknis, lukisan merupakan penggunaan pigmen atau wama dengan menggunakan bahan
pelarut yang dibubuhkan di atas permukaan bidang dasar, misalnya pada kanvas,
sebagai media untuk menghasilkan sensasi atau ilusi ruang, tekstur, gerakan,
untuk mengekspresikan berbagai makna atau nilai subjektif, baik yang bersifat
emosional, intelektual, simbolik, relegius, dan lain sebagainya.
Seorang pakar seni
lukis, Herbert Read mengatakan bahwa seni lukis merupakan penggunaan garis,
warna, tekstur, ruang dan bentuk, shape, pada suatu permukaan, yang bertujuan
untuk menciptakan berbagai gambar, dan gambar-gambar tersebut bisa merupakan hasil
ekspresi dari ide-ide, emosi, dan pengalaman-pengalaman, yang dibentuk
sedemikian rupa sehingga tercapainya harmoni. Adapun pengalaman yang dituangkan
dalam lukisan adalah pengalaman yang berisi keindahan atau pengalaman estetika.
Menurut seorang pakar
seni lukis lain yang bernama Edmund Burke Feldman, peng-ekspresian itu
menggunakan :
-Unsur-unsur visual,
yang terdiri atas garis, warna, bentuk, tekstur dan ruang atau gelap terang
-Organisasi dari
unsur-unsur tersebut, yang meliputi kesatuan, keseimbangan, irama dan
perbandingan ukuran.
Seorang kritikus seni
rupa bernama Dan Suwaryono mengemukakan bahwa seni lukis memiliki dua faktor.
Faktor Ideoplastis:
ide, pengalaman, pendapat, emosi, fantasi, dan lain-lain. Faktor ini lebih
bersifat rohaniah sebagai dasar penciptaan seni lukis.
Faktor Fisioplastis:
yang meliputi hal-hal yang menyangkut masalah teknis, termasuk organisasi
elemen-elemen visual seperti garis, ruang, warna tekstur, bentuk dengan
prinsip-prinsipnya. Faktor ini lebih bersifat fisik dalam arti seni lukisnya
itu sendiri.
Seni lukis merupakan
wujud ekspresi yang harus dipandang secara utuh. Keutuhan wujud itu, terdiri
atas ide dan organisasi elemen-elemen visual. Elemen-elemen visual tersebut
disusun sedemikian rupa oleh seniman lukisan dalam bidang dua dimensi.
Pengertian seni lukis
sebenarnya mencakup ruang lingkup yang lebih luas dari sebuah definisi, karena
seni lukis juga memiliki beragam istilah, misalnya lukisan dinding, lukisan
miniatur, lukisan puisi, lukisan jambangan, lukisan mozaik, lukisan potret,
lukisan manuskrip, lukisan enamel, lukisan kaca, lukisan teknologi yang dibuat
dengan menggunakan media elektronik, seperti komputer (vector art), dikerjakan
dengan komputer, dan hasilnya cukup realistis di bandingkan dengan lukisan
ekspresionisme.
Jenis lukisan yang ukurannya lebih kecil
dari lukisan dinding atau mural. Sejenis seni lukis yang lebih fleksibel,
karena para seniman pelukis dapat membawa ide dan gagasannya itu ke berbagai
lokasi untuk melakukan karya melukis di alam bebas, di samping itu, dapat pula
digunakan berkarya di studio seni lukis.
Berikut ini disajikan
beberapa hal-hal yang berkaitan dengan pengetahuan seni lukis.
2. Unsur Visual
a. Garis
Sebuah titik dalam
ukuran kecil sudah punya tenaga yang cukup untuk merangsang mata dan dapat
berperan sebagai sebuah awal. Jika titik tersebut digerakkan, maka dimensi
perpanjangnya akan jadi tampak lebih menonjol dan sosok yang ditimbulkannya
disebut dengan garis. Garis bisa berupa goresan yang dibuat di permukaan sebuah
bidang, akan tetapi garis dapat juga mewakili sebuah tongkat, tiang bendera,
kawat, pancaran sinar, sebilah tombak, ruang antara dua bangunan atau dinding,
jalanan, sungai, kontur pegunungan, bangunan, kontur pegunungan, batas dinding
dengan lantai, dan seterusnya.
Sebuah garis dapat
memberikan kita kesan gerak, ide, atau simbol. Pada karya seni lukis, sebuah
atau lebih garis dapat mengekspresikan suasana emosi tertentu, misalnya
perasaan bahagia, sedih, kacau, bingung, marah, teratur, dan lain sebagainya.
Secara fisik garis dapat kita buat tebal, tipis, kasar, halus, lurus,
memanjang, pendek, putus-putus, melengkung, berombak, patah-patah dan banyak
lagi. Unsur garis juga dapat membangun membangkitkan kesan tertentu, misalnya
garis horisontal kesannya tenang, tidak bergerak, dan lebar. Sementara garis
vertikal berkesan agung, stabil, dan tinggi, sedangkan garis diagonal berkesan
jatuh dan bergerak.
Garis merupakan salah
satu elemen yang penting dalam seni lukis. Pedoman seni yang penting
sebagaimana juga yang terdapat dalam hidup. Semakin nyata, tajam dan kuat
garisnya, maka makin sempurna hasil seninya.
Garis dapat diciptakan
melalui
(1) kontur, garis
paling luar dari benda yang dilukis,
(2) Batas pemisah
antara dua warna atau cahaya terang dan gelap,
(3) lekukkan pada bidang
melingkar atau memanjang lurus, dan
(4) batas antara dua
tekstur yang berlainan.
Dalam Kebudayaan Timur,
para seniman pelukis sangat terpesona oleh kekuatan garis, baik di India, Cina,
Jepang, maupun Indonesia. Untuk memahami kekuatan garis dalam seni lukis, bisa
kita lihat bahwa lukisan Cina klasik bersifat grafis yang memberikan kesan
lembut, puitis, penuh irama yang terkendali, juga menimbulkan efek perasaan
tenteram. Sebaliknya jika kita lihat karya-karya dari Vincent van Gogh, ia
banyak menggunakan garis pendek, patah-patah yang menimbulkan efek yang keras
tegar sehingga menimbulkan kesan ledakan dan pemberontakan.
Di dunia Barat,
bisa kita lihat karya-karya dari Pablo Picasso, Henry Matisse, Paul Klee, Roul
Dufi sebagian dari tokoh yang kuat dalam garis. Jika garis digoreskan dengan
jujur dan mengikuti kata batin, akan kita temukan identifikasi seseorang.
Dengan garis dapat lahir bentuk, tapi juga bisa mengesankan suatu tekstur, nada
dan nuansa, ruang dan volume, semua itu akan melahirkan suatu perwatakan.
Dari uraian di atas
kiranya dapat dimengerti, bahwa unsur garis dalam suatu lukisan dapat
dipergunakan sesuai dengan kebutuhan. Teknik penguasaan dan pengendalian garis
dalam seni lukis memang harus memerlukan latihan yang intensif dan berkelanjutan
sehingga bakat kita akan berkembang secara optimal.
b. Warna
Seperti yang pernah
kita pelajari dalam ilmu fisika, warna ditimbulkan oleh sinar matahari, sinar
matahari yang di arahkan ke sebuah kaca prisma akan terurai menjadi beberapa
sinar warna, yang disebut spektrum warna. Setiap spektrum mempunyai kekuatan
gelombang tertentu yang kemudian sampai pada mata kita, sehingga kita dapat
melihat warna tertentu.
Secara fisik, ada dua
jenis penerima cahaya, yakni sebagai pemantul dan sebagai penyerap cahaya.
Secara fisiologi, stimulasi cahaya memantulkan warna suatu objek sehingga dapat
merangsang mekanisme mata kita, kemudian rangsangan tersebut disalurkan melalui
syaraf optik ke otak, sehingga kita dapat mengenali warna-warna itu.
Telah dibuktikan secara
psikologis bahwa warna dapat mempengaruhi kegiatan fisik maupun mental orang
yang melihatnya. Reaksi manusia terhadap warna bersifat instingtif (kepekaan) dan
perseorangan, karenanya sensitivitas setiap manusia berbeda kepada warna-warna.
Pada berbagai aliran seni lukis dalam sejarah seni rupa telah dikenal
manifenstasi tata warna tertentu, misalnya skema warna Rembrant, skema warna
klasik, dan lain sebagainya.
Peran warna dalam seni lukis sangat esensial (populer), baik
pada masa pra modern, masa modem, maupun masa posmodern.
Pada umumnya para
seniman pelukis memanfaatkan warna untuk menyatakan gerak, jarak, ruang,
bentuk, tegangan, deskripsi rupa alam, naturalisme, ekspresi atau makna simbolik.
Untuk memahami lebih dalam tentang bagaimana peran warna dalam seni lukis,
berikut ini akan disajikan sifat warna, notasi warna, warna objek,
pigment, yang seluruhnya sangat menentukan kualitas penciptaan sebuah lukisan.
c. Sifat Warna
Dalam teori warna
dikenal ada tiga sifat, yaitu: hue, value, dan saturation.
- Hue merupakan tingkat kepekatan warna, misalnya merah, merah oranye, atau hijau, biru, biru keunguan dan seterusnya.
- Value merupakan fenomena kecemerlangan dan kesuraman warna. Nilai rendah menunjukkan warna yang cenderung suram atau kegelapan, sementara nilai tinggi menunjukkan kecenderungan warna yang terang dan cemerlang. Misalnya gejala demikian dapat kita lihat pada skala derajat warna abu-abu dari hitam ke putih.
- Saturation merupakan intensitas nada warna untuk menunjukkan warna-warna menyala, dan warna-warna yang suram. Semakin murni penggunaan warna semakin tinggi intensitasnya, sebaliknya semakin tidak murni penggunaan warna menyebabkan semakin rendah intensitasnya.
- Intensitas Warna (Intensity) atau Kualitas Warna; adalah merupakan tingkat kecerahan atau kemuraman warna. Warna yang cerah adalah warna yang mempunyai kecerahan sinar (spotlight) dan warna yang muram adalah warna yang kusam atau warna yang tidak berkesan memancarkan sinar.
- Kontras (Contras); warna kontras adalah warna yang saling bertentangan atau bertolak belakang tingkat gelap terangnya.
- Komplementer (Complement); warna komplementer adalah warna yang apabila dicampur antara dua warna akan menjadi gelap/kelabu/hitam kusam. Misalkan ; merah x hijau, biru x jingga, kuning x ungu
- Monokrom (Monocrome); warna monokrom adalah warna yang masih sejenis atau masih sekeluarga. Warna monokrom contohnya adalah keluarga warna merah, maka terdiri dari warna : merah hitam, merah coklat, merah gelap, merah jernih (primer), merah muda, merah jambu, merah jambu muda, dan seterusnya.
- Monoton (Monotone); warna monoton adalah warna yang memiliki gelap terang yang senada. Contoh warna monoton adalah warna-warna gelap seperti coklat, hijau tua, biru tua, dan merah tua. Warna-warna terang seperti warna cream, kelabu, kuning gading, pink, biru laut, dan hijau pupus.
- Analog (Warna berdekatan); warna analog adalah warna-warna yang tidak kontras dan komplementer, dan jika dicampur menjadi warna yang bagus/matang. Contoh analog warna adalah warna biru berdekatan dengan warna merah/ungu/merah keunguan atau biru berdekatan dengan kuning/hijkau/hijau kekuningan.
- Warna Hangat-Dingin (Colour Condition); warna hangat adalah warna yang mengandung warna merah/warna yang terang. Warna dingin adalah warna yang mengandung warna biru/putih atau redup.
Pada tahun 1940-an seni
lukis Affandi menggunakan warna-wama suram atau kusam secara dominan,tapi kemudian lukisannya berkembang kepenggunaan
warna-wama cerah.
.
Arti warna sebagai
simbolik yaitu :
Merah : berani, semangat, gairah, cinta.
Orange : kering, gersang, kebahagiaan,
kegembiraan, ranum.
Kuning : emas, kemuliaan, keagungan, kemewahan,
biasa, cemburu, iri, benci, ragu-ragu, layu, gugur.
Hijau : muda, pertumbuhan, perkembangan,
harapan, sejuk,makmur, kemenangan.
Biru : kesetiaan, kebenaran,
kesungguhan,dalam, misteri.
Ungu : kemewahan, kebesaran, duka cita.
Putih : suci, kosong, bersih, lahir, tak
berdosa, menyerahkan diri.
Hitam : kegelapan, misteri, kematian,
ketegasan, kewibawaan, kesungguhan, abadi.
d. Notasi Warna
Dalam pengertian seni
lukis, notasi warna merupakan sistem klasifikasi atau identifikasi warna
menurut sifat-sifatnya. Dalam konteks ini dikenal Sistem Munsell, Sistem Plochere, Sistem Ostwald, dan Sistem
Maxwell. Tatanan warna dalam the hues of the spectrum terdapat pada warna
pelangi di alam.
Sedangkan dalam
lingkaran warna, color circle, dapat dilihat warna primer, merah, biru, dan
kuning.
- Warna skunder, adalah hijau, ungu, oranye, dimana ketiganya merupakan hasil pencampuran warna primer.
- Warna komplementer letaknya bertolak belakang pada lingkaran warna, misalnya merah dengan hijau, biru dengan oranye, serta kuning dengan ungu. Terang dan gelap diungkapkan dengan warna putih dan hitam.
- Sedangkan warna abu-abu merupakan warna netral. Jika hue adalah nilai kecerahan dan kecemerlangan warna, maka chrom adalah sifat kualitas, intensitas, dan kejernihan warna.
Menurut Brewster, warna
secara umum dapat digolongkan menjadi tiga kelompok utama antara lain sebagai
berikut:
- Warna primer adalah warna dasar atau warna pokok yang terdiri dari warna merah, biru, dan kuning.
- Warna sekunder adalah warna hasil pencampuran seimbang dari warna primer satu dengan lainnya. Warna sekunder terdiri dari warna hijau, jingga, dan ungu
- Warna tersier adalah warna hasil pencampuran warna-warna skunder, atau pencampuran warna primer dengan warna sekunder. Contoh warna sekunder adalah warna ungu kemerahan, ungu kebiru-biruan, hijau kebiru-biruan, hijau kekuning-kuningan, jingga kekuning-kuningan, jingga kemerah-merahan.
e. Warna-Warna Antara
Setelah warna primer,
warna skunder, dan warna komplementer, dikenal pula warna-warna antara
(intermediate color), contoh warna-warna antara ini adalah merah oranye, merah
ungu, biru ungu, hijau biru, kuning hijau, dan oranye kuning. Dalam teori
warna, jumlah warna ada delapan puluh warna.
f. Warna Hangat dan
Warna Sejuk
Dari lingkaran warna
dapat pula ditentukan warna hangat- panas dan warna sejuk-dingin, Warna yang
memberi efek kehangatan misalnya warna merah, oranye dan kuning, sedangkan
warna hijau dan biru memberikan efek yang menyejukkan.
g. Warna Kromatik dan
Akromatik
Warna kromatik
(chromatic color), terdiri dan warna hitam, putih, dan abu-abu, selebihnya
termasuk warna akromatik (achromatic color), seperti merah, hijau, biru,
coklat, oranye dan seterusnya. Dalam seni lukis penggunaan warna tunggal sering
diartikan sebagai warna kromatik, sementara penggunaan warna meriah yang
menggunakan banyak warna, disebut polychromatic.
Pengertian ini dapat kita
terjemahkan dari pengalaman keseharian, pada saat kita mendekati warna api yang
merah, kita tentu merasa hangat, dan jika terlalu dekat kita bisa kepanasan.
Sementara jika
seseorang berada di daerah pegunungan yang hijau atau gunung yang kebiruan, ia
akan merasakan iklim yang sejuk. Asosiasi kita mengenai pengalaman nyata
seperti itu menyebabkan kita mengartikan sifat warna menjadi hangat-panas bagi
warna merah, oranye dan kuning, sedangkan efek menyejukkan atau dingin
diberikan oleh warna hijau dan biru memberikan.
h. Warna Objek dan
Warna Pigment
Warna objek merupakan
warna yang terkena sinar warna spektrum, yang mengenai mekanisme mata seorang
pengamat adalah warna spektrum tersebut yang memiliki panjang gelombang
tertentu dan dipantulkan oleh objek pengamatan. Jika objeknya merah, maka warna
spektrum merah dengan panjang gelombang merahlah yang diserap mata pengamat.
Ini berarti pantulan warna tersebut adalah pantulan warna merah, sedangkan
sisanya diserap oleh permukaan objek tersebut. Warna pigment yang berupa bubuk
halus yang disatukan dengan zat pengikat merupakan warna cat yang dikenal luas,
seperti cat air, cat poster, cat minyak, cat gouache, cat tempera, cat akrilik,
dan lain sebagainya.
3. Ruang
Ruang merupakan suatu luasan dari suatu bidang atau permukaan. Dalam Design Elementer disebutkan
bahwa ruang bisa dikatakan bentuk dua atau tiga dimensional, bidang atau
keluasan. Keluasan tersebut bersifat positif atau negatif yang dibatasi oleh
limit. Berbeda dengan pengertian garis, ruang memiliki 2 dimensi tambahan yaitu
lebar dan dalam.
Ruang mempunyai gerakan arah dan ciri umum seperti halnya: diagonal,
horizontal, lurus, bergelombang, melengkung dan lain-lainnya. Untuk memperjelas
hal tersebut, maka batasan utama yang paling sesuai untuk ruang adalah
keleluasaan dari satu bidang atau permukaan yang memiliki bentuk dua
dimensional.
4. Tekstur
Pada umumnya pelukis
memanfaatkan tekstur yang merupakan kualitas dari suatu permukaan, nilai kesan
raba atau berkaitan dengan indra peraba. Suatu struktur penggambaran permukaan
objek, seperti buah-buahan, batu, kain, kulit, rambut, barang elektronik, dan lain
sebagainya. Tekstur bisa kasar, halus, lunak, keras, berbutir, bisa juga kasar
atau licin, teratur, atau tidak beraturan, sesuai dengan kualitas yang akan
diekspresikan sang pelukis.
Tekstur bisa dibuat
dengan cat yang dicampur dengan bahan-bahan lain di atas kanvas, seperti
modeling paste, bubuk marmar, pasir, dan lain lain. Pada umumnya tekstur
digunakan tidak untuk semata-mata dari segi teknis, tetapi juga mengacu kepada
substansi lukisan, atau ekspresi lukisan. Jika nilai ekspresi merupakan unsur pokok
lukisan, maka pemanfaatan tekstur dapat menjadi pendukung nilai ekspresi itu
sendiri.
Para pelukis dapat
memanfaatkan unsur tekstur untuk variasi, fokus atau kesatuan. Kesemuanya itu
dapat terjadi dengan kesengajaan yang dilakukan oleh pelukis, maupun karena
sifat dari media itu sendiri yang dipakai ketika melukis. Dalam kaitannya
dengan para pelukis formalis, maka fungsi tekstur dapat berubah sebagai unsur
yang berdiri sendiri, artinya tidak ada berkaitan dengan tujuan eksternal
tertentu, bagi mereka penggarapan tekstur semata-mata untuk mencapai efek estetis
dalam kesatuan lukisan.
Jika seseorang
mengamati permukaan suatu lukisan dan mendapat kesan kasar, kemudian meraba
lukisan tersebut dan ternyata benar-benar kasar. Atau sebaliknya kesan pengamatan
memberi kesan halus, ketika diraba ternyata juga halus, maka jenis tekstur
seperti itu disebut tekstur nyata (actual texture), karena antara hasil
pengamatan dengan kenyataan memiliki kualitas yang sama.
Jika seseorang mendapat
kesan kasar pada pengamatan permukaan objek lukisan, sementara hasil
perabaannya sesungguhnya halus, atau kesan pengamatan halus dan kesan raba
kasar, maka jenis tekstur seperti ini disebut tekstur semu (simulated texture
atau synthetic texture), Karena antara hasil pengamatan dengan kenyataan
sesungguhnya tidak sama tapi berbeda atau tidak nyata. Biasanya tekstur seperti
ini dihasilkan dari efek permainan warna, pola, nada, dan garis.
5. Bentuk
Semua karya seni rupa
tentu memiliki bentuk, apakah bentuk tersebut realistik atau abstrak,
representasional atau non representasional, dirancang dengan cermat atau
dihasilkan dengan spontan. Apapun jenis dan aliran seni lukis, semuanya
merupakan pengorganisasian elemen rupa menjadi bentuk seni. Dalam teori seni,
pemakaian istilah bentuk merupakan terjemahan dari bahasa Inggris
"shape", sedangkan istilah wujud merupakan terjemahan dari
"form".
Bentuk biasanya
diartikan sebagai aspek visual, bagian-bagian yang tergabung menjadi satu yang
disebut rupa atau wujud. Wujud mengandung pengertian yang khas dalam konteks
seni rupa.
Bentuk dalam pengertian
seni lukis memiliki banyak segi, ada bentuk figuratif, bentuk semi figuratif
dan bentuk non figuratif. Bentuk figuratif bisa menghasilkan bentuk imitatif
yaitu berupaya meniru segala bentuk perwujudan benda-benda alam (keindahan alam
pegunungan, fauna, flora, pantai, daerah pertanian, potret, dalam setting
alamiahnya) atau bentuk-bentuk ciptaan manusia (seperti pabrik, istana, kota,
menara, pelabuhan, hotel, dan lain-lain) objek ini di lukis persis seperti
keadaan aslinya.
Karya-karya yang dihasilkan dengan sendirinya secara alami
cenderung menjadi naturalisme atau realisme. Jika kehadirannya dipicu oleh
kehidupan bawah sadar penciptaannya, maka bisa pula menciptakan karya-karya
surialisme seperti pada karya-karya Sudibio, Salvador Dali, atau Ivan Sagito.
Bentuk semi figuratif
antara lain bentuk distorsif, bentuk yang telah dirubah dari bentuk asal
menjadi bentuk yang lebih estetis sesuai dengan cita rasa penciptanya. Dengan
gaya perseorangan yang khas bisa dihasilkan dengan teknik pemanjangan,
pemendekan, peninggian, pemiringan, dan perubahan-perubahan lain dari objek
yang dilukis, semuanya ditujukan untuk maksud-maksud tertentu sebagai
pengungkapan pengalaman seni perseorangan.
Juga dikenal bentuk
geometris, teknik pelukisan yang menghadirkan bentuk-bentuk yang tertib,
teratur, dengan pengulangan objek atau motif tertentu sesuai dengan kebutuhan.
Bentuk dalam konteks ini bisa dihasilkan dari analisis bentuk alam menjadi
bentuk dasar dengan kebebasan yang bervariasi, seperti lukisan kubisme, optical
art dan sejenisnya.
Karya yang dihasilkan
bisa semi figuratif, dan bisa pula menjadi abstrak geometris, apabila bentuk
lukisan tidak lagi menggambarkan bentuk-bentuk yang bisa diamati dalam
kehidupan keseharian. Jika pelukisan menjadi bidang warna yang datar dalam
karya maka bentuk-bentuk yang dihasilkan menjadi neo plastisisme, seperti karya
Piet Mondrian, atau color field painting, seperti karya Ellswort Kelly.
Sebaliknya jika
pelukisannya disertai unsur emosi maka akan menjadi abstrak ekspresionisme
seperti karya Jackson Pollock. Atau jika bentuk itu tidak berupaya mencapai
efek tiga dimensional disebut bentuk dekoratif, seperti lukisan-lukisan
tradisional Bali, atau karya-karya Kartono Yudhokusumo, Mulyadi W. Batara Lubis
dan lain-lain.
Sumber belajar : https://www.slideshare.net/MuhammadAmarRahman/ seni-budaya-bab-2-berkarya-seni-rupa
: https://www.slideshare.net/ladieska/k11-s1-bs-senbud
: http://www.academia.edu/35447576/Unsur-unsur_Kreativitas
Sumber belajar : https://www.slideshare.net/MuhammadAmarRahman/ seni-budaya-bab-2-berkarya-seni-rupa
: https://www.slideshare.net/ladieska/k11-s1-bs-senbud
: http://www.academia.edu/35447576/Unsur-unsur_Kreativitas











